Logo Bloomberg Technoz

Waller sebelumnya menyatakan pendapat berbeda terhadap keputusan The Fed pada Januari lalu untuk mempertahankan suku bunga acuan. Saat itu, ia lebih memilih pengurangan seperempat poin karena adanya tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja. Namun, laporan ketenagakerjaan pemerintah untuk bulan Januari justru menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dari perkiraan, di mana ekonomi AS mencatatkan pertumbuhan lapangan kerja yang solid dan angka pengangguran yang menurun.

“Asalkan inflasi inti terus memberi sinyal bahwa kita mendekati target 2%, maka kunci untuk menetapkan kebijakan yang tepat adalah pandangan saya terhadap pasar tenaga kerja,” kata Waller.

Meski menyambut baik angka positif di bulan Januari, Waller mengkhawatirkan data tersebut "mungkin mengandung lebih banyak gangguan daripada sinyal yang jelas." Hal ini terutama karena revisi data dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa penciptaan lapangan kerja selama tahun 2025 mendekati nol. Menurutnya, hal itu mengindikasikan pasar kerja sepanjang 2025 berada dalam kondisi "lemah" dan "rapuh." Biro Statistik Tenaga Kerja dijadwalkan merilis laporan ketenagakerjaan Februari pada 6 Maret mendatang.

Prospek Inflasi

Terkait inflasi, Waller kembali menegaskan bahwa ia terus memisahkan dampak kebijakan dagang Presiden Donald Trump dalam penilaiannya.

“Saya mengestimasi bahwa apa yang saya sebut sebagai inflasi inti—inflasi tanpa efek tarif—sudah mendekati target 2% FOMC,” jelasnya.

Ia menilai putusan Mahkamah Agung pada hari Jumat yang membatalkan sebagian besar tarif darurat Trump kemungkinan tidak akan berdampak signifikan terhadap pandangannya mengenai bagaimana The Fed harus menetapkan kebijakan.

Selain itu, ia belum melihat kecerdasan buatan (AI) memberikan dampak besar pada produktivitas ekonomi secara luas. Menurutnya, tren kuat baru-baru ini bisa disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk perubahan pengaturan kerja pasca-pandemi Covid-19.

“Pertumbuhan produktivitas yang kita lihat selama satu atau dua tahun terakhir bukan berasal dari AI,” katanya dalam sesi tanya jawab. “Saya rasa tidak ada dari kita yang percaya bahwa hal tersebut adalah penggerak besar bagi pertumbuhan produktivitas dalam angka agregat.”

Neraca Keuangan

Dalam sesi yang sama, Waller turut membahas neraca keuangan The Fed yang mencapai US$6,6 triliun. Ia menjelaskan bahwa ukuran tersebut membengkak karena pembelian aset untuk mendukung ekonomi saat krisis, serta adopsi sistem cadangan "melimpah" agar bank memiliki lebih banyak cadangan guna meningkatkan likuiditas sistem keuangan.

Langkah ini sempat dikritik oleh Kevin Warsh—pilihan Trump untuk menjadi Gubernur The Fed berikutnya—dan Menteri Keuangan Scott Bessent, yang menginginkan bank sentral memiliki jejak yang lebih kecil di pasar. Namun, Waller menegaskan bahwa kembali ke rezim cadangan "langka" bukanlah hal yang diinginkan.

“Anda tidak ingin bank setiap malam mengais-ngais di sela-sela bantal sofa untuk mencari uang. Itu sangat tidak efisien dan konyol,” tegasnya.

 

(bbn)

No more pages