Seiring dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak ADMF turun menjadi Rp1,98 triliun dari Rp2,28 triliun pada 2024. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp443,90 miliar, laba tahun berjalan tercatat Rp1,54 triliun.
Penurunan laba ini berdampak pada laba per saham (earning per share/EPS) yang turun menjadi Rp1.253/saham dari Rp1.538/saham pada tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset ADMF per akhir 2025 tercatat Rp38,52 triliun, relatif stabil dibandingkan posisi Rp38,37 triliun pada akhir 2024. Piutang pembiayaan konsumen meningkat menjadi Rp25,74 triliun dari Rp23,91 triliun dan tetap menjadi kontributor utama aset perseroan.
Di sisi liabilitas, total kewajiban turun tipis menjadi Rp23,49 triliun dari Rp23,82 triliun. Utang obligasi tercatat meningkat menjadi Rp8,41 triliun dari Rp6,19 triliun, sementara pinjaman yang diterima menurun menjadi Rp9,88 triliun dari Rp12,63 triliun.
Ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp15,03 triliun dari Rp14,54 triliun, didukung oleh saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp11,91 triliun.
Sepanjang tahun 2025, ADMF telah membagikan dividen kas sebesar Rp982,46 miliar kepada pemegang saham. Perseroan juga melakukan pembelian kembali saham treasuri dengan nilai Rp93,74 miliar.
Pada akhir 2025, posisi kas dan setara kas tercatat Rp820,91 miliar, turun dibandingkan Rp1,95 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Arus kas dari aktivitas operasi tetap mencatatkan nilai positif sebesar Rp453,67 miliar, sementara arus kas pendanaan mencatatkan defisit Rp1,35 triliun seiring dengan pembayaran pinjaman dan obligasi.
(dhf)




























