Logo Bloomberg Technoz

Teknologi AS

Selain menaikkan impor batu bara kokas, Indonesia juga diminta meningkatkan penggunaan teknologi batu bara AS. 

Nantinya, Indonesia akan bermitra dalam mempercepat pengembangan, penerapan, hingga komersialisasi teknologi.

“Termasuk dengan memanfaatkan semua mekanisme pendanaan yang tersedia untuk mendukung kemajuan teknologi batu bara, termasuk penggunaan batu bara dan produk sampingan batu bara untuk memproduksi bahan bangunan, bahan baterai, serat karbon, grafit sintetis, dan bahan cetak, serta untuk membangkitkan tenaga listrik dan proses industri lainnya,” sebagaimana tertulis dalam dokumen yang dirilis White House itu.

Kesepakatan impor komoditas batu bara metalurgi tersebut merupakan salah satu bagian penting dalam kesepakatan tarif resiprokal RI-AS. 

Poin besar kesepakatan tersebut mengungkapkan Indonesia menerima penurunan tarif impor AS sebesar 19% kepada produk-produk asal Indonesia. Terdapat tarif 0% untuk komoditas tertentu seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao.

Di sisi lain, Indonesia juga wajib menghapuskan hambatan tarif secara preferensial pada lebih dari 99% produk AS yang masuk ke Tanah Air.

Baru-baru ini, pemerintahan Trump menegaskan kembali komitmennya untuk menghidupkan industri batu bara. Trump bakal menggelontorkan dana US$175 juta untuk memperbaiki enam pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan memerintahkan Departemen Pertahanan membeli listrik dari berbagai PLTU lainnya.

“Kami akan membeli batu bara melalui militer. Ini akan menjadi lebih murah dan efektif dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” tegas Trump di Gedung Putih, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Menurut Trump, batu bara adalah sumber energi yang paling bisa diandalkan. Pemerintahannya akan memastikan berbagai langkah untuk meningkatkan pembangkitan dan menyediakan listrik dengan harga yang lebih terjangkau.

“Pembangkitan listrik dari batu bara naik hampir 15% pada tahun pertama pemerintahan saya. Angka itu akan naik menjadi 25% atau 30% pada tahun ini.”

“Lebih banyak batu bara berarti lebih sedikit biaya dan uang bertambah di kantong rakyat AS. Tidak buruk,” papar Trump.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton, anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sejumlah 836 juta ton.

Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, yaitu sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi. Sementara itu, realisasi penyaluran batu bara untuk pasar domestik mencapai 254 juta ton atau 32%.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor batu bara terkoreksi 3,66% ke level 390,93 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025, lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 405,76 juta ton.

Berdasarkan nilainya, kinerja ekspor batu bara sepanjang 2025 turun 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).

Torehan kinerja ekspor batu bara tahun lalu terpaut lebar dari capaian sepanjang 2024 di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.

(azr/wdh)

No more pages