Thailand Balik Arah Soal Ganja
Redaksi
23 January 2026 19:16
Bloomberg, Awalnya digadang-gadang sebagai penyelamat kemerosotan ekonomi Thailand pascapandemi, industri ganja yang berkembang pesat justru memicu reaksi keras di dalam negeri.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan tanaman tersebut kembali dikriminalisasi setelah pemilihan umum bulan depan.
Baca Juga
Thailand menjadi negara pertama di Asia yang mendekriminalisasi ganja pada 2022. Kebijakan ini mendapat dukungan luas, dengan masyarakat diberi pemahaman bahwa negara tersebut akan berkembang menjadi pusat regional ganja medis.
Langkah itu diharapkan mampu memperluas sektor pariwisata kesehatan serta menciptakan komoditas pertanian baru bagi para petani.
Namun, dalam beberapa bulan, menjadi jelas bahwa kebijakan tersebut justru memicu peningkatan penggunaan ganja untuk rekreasi, yang meluas hingga ke kalangan anak-anak.
Ribuan toko yang menjual rokok ganja siap pakai dan permen karet berperisa buah bermunculan di seluruh negeri. Aroma ganja di jalanan kota pun menjadi sama lazimnya dengan aroma daging babi panggang.
Para dokter memperingatkan adanya lonjakan jumlah pasien rawat inap. Kelompok pariwisata khawatir akan kehilangan wisatawan berpenghasilan tinggi, sementara pemerintah asing mengeluhkan meningkatnya penyelundupan narkoba.
Sejumlah studi juga menunjukkan peningkatan penggunaan ganja untuk rekreasi di kalangan pelajar sekolah, yang menjadi salah satu poin utama perdebatan di tengah masyarakat Thailand.
“Ini sudah di luar kendali dan berdampak negatif yang sangat besar, terutama pada anak-anak dan remaja di bawah usia 25 tahun, yang otaknya masih berkembang,” kata Yodsakorn Khunphakdee, koordinator Jaringan Pemuda Anti Ganja. Ia mengajukan petisi kepada Kementerian Kesehatan tahun lalu dengan 200.000 tanda tangan yang mendesak agar kebijakan dekriminalisasi dibatalkan.
Meskipun pihak berwenang menyatakan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk penggunaan medis, ketiadaan peraturan yang jelas telah menciptakan area abu-abu.
Toko-toko dengan papan neon mencolok tetap menjual produk ganja secara bebas, bahkan setelah peraturan baru yang ditetapkan tahun lalu mewajibkan adanya resep dokter.
Patraporn Kinorn, seorang dokter yang berspesialisasi dalam psikiatri anak dan pengobatan kecanduan, mengatakan bahwa ia melihat peningkatan jumlah pasien muda yang mengalami kecanduan ganja.
Para pemuda mengonsumsi tanaman ini secara mandiri untuk mengatasi depresi, tetapi kondisi mereka justru memburuk, katanya dalam sebuah seminar tentang penyakit akibat ganja di Bangkok pada awal bulan ini.
“Hukum mungkin mengatakan bahwa anak-anak sudah dilindungi, tetapi pertanyaannya adalah: apakah itu cukup?” katanya.
(red)






















