Bagaimanapun, Eko mengatakan dalam pengembangan proyek gasifikasi batu bara, pemilihan teknologi merupakan aspek krusial yang terus dievaluasi secara mendalam oleh PTBA.
Menurutnya, PTBA mengedepankan teknologi yang tidak hanya teruji secara teknis atau proven technology, tetapi juga memiliki efisiensi tinggi dan ramah lingkungan.
Hal itu dilakukan untuk memastikan teknologi yang dipilih nantinya dapat mengonversi batu bara kalori rendah menjadi DME secara optimal dan berkelanjutan.
“Kami menyadari adanya tantangan dalam adaptasi teknologi ini, karena itu, kami terus melakukan studi komprehensif serta berdiskusi dengan berbagai penyedia teknologi global,” ucap Eko.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria sebelumnya mengatakan proyek-proyek yang akan mulai groundbreaking tersebut merupakan bagian dari total 21 proyek hilirisasi yang tengah disiapkan dengan nilai investasi hampir Rp500 triliun.
“Dari total 21 proyek yang akan kita lakukan, minggu lalu kita sudah menyelesaikan groundbreaking 6 proyek hilirisasi. Minggu depan kami akan groundbreaking lagi kurang lebih ada 10 proyek,” ujar Dony, Selasa (10/2/2026).
Dony tidak menampik salah satu proyek yang akan segera dimulai pekan depan adalah proyek DME melalui skema gasifikasi batu bara. Proyek ini melibatkan PTBA sebagai bagian dari pengembangan hilirisasi energi nasional.
“DME kita, gasifikasi daripada batu bara kita dengan Bukit Asam, yang baru akan kita groundbreaking minggu depan,” kata Dony.
Dony menegaskan, seluruh proyek hilirisasi tersebut diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia serta menciptakan lapangan pekerjaan yang signifikan bagi masyarakat.
Menurutnya, investasi besar di sektor hilirisasi juga ditujukan untuk memperkuat nilai tambah sumber daya alam dan menopang pembangunan nasional ke depan.
PTBA sendiri sebelumnya sudah aktif melakukan penjajakan dengan calon mitra potensial untuk proyek tersebut, terutama perusahaan dari China seperti China National Chemical Engineering Group Corporation (CNCEC), China Chemical Engineering Second Construction Corporation (CCESCC), Huayi, Wanhua, Baotailong, Shuangyashan, dan East China Engineering Science and Technology Co Ltd (ECEC).
Dari seluruh calon mitra tersebut, baru ECEC yang sudah menyatakan minat menjadi mitra investor, meski bukan dengan skema investasi penuh atau full investment.
ECEC sendiri telah menyampaikan preliminary proposal coal to DME pada 18 November 2024 dengan processing service fee (PSF) indikatif yang diusulkan berada di rentang US$412—US$488 per ton.
Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan ekspektasi Kementerian ESDM pada 2021 sebesar US$310 per ton.
(mfd/wdh)




























