Logo Bloomberg Technoz

Ironi Hilirisasi Nikel: Dulu Jorjoran, Kini Ribut RKAB Ditekan

Mis Fransiska Dewi
14 February 2026 10:00

Nikel matte cair di tungku smelter./Bloomberg-Cole Burston
Nikel matte cair di tungku smelter./Bloomberg-Cole Burston

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) merasa prihatin dengan keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memangkas rencana produksi nikel periode 2026 menjadi 270 juta ton dari tahun lalu sebanyak 379 juta ton. 

Kondisi ini berdampak pada risiko kelangkaan bahan baku bijih nikel yang digunakan bagi kebutuhan hilirisasi nikel di Tanah Air.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengatakan sejatinya kebutuhan bijih nikel bagi seluruh smelter—baik pirometalurgi berbasis rotary kiln-electric furnace (RKEF), maupun segmen hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) — mencapai sekitar 350—360 juta ton.


Walhasil,  saat RKAB nikel dipangkas menjadi hanya 260—270 juta ton, terdapat kekurangan pasokan bahan baku bijih nikel dalam negri paling sedikit sekitar 90—100 juta ton. 

Data smelter nikel di Indonesia./dok. APNI

Arief menjelaskan kondisi tersebut diperparah dengan fakta bahwa realisasi produksi bijih nikel di Indonesia selalu lebih rendah dari angka target RKAB yang disetujui.