Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, simpanan masyarakat hanya diberi bunga sekitar 1%, sementara biaya pinjaman berkisar 2%. Menurutnya, model ini membuat sistem perbankan Jerman menjadi kuat karena berorientasi pada keberlanjutan, bukan keuntungan besar-besaran. 

"Itu kan prinsip syariah. Taruh, pokoknya profitability-nya khusus untuk biaya operasional aja, enggak untung besar-besaran. Oh, saya baru tahu ternyata [ekonomi] syariah bisa berjalan," terangnya. 

Ia juga menuturkan, pejabat Bundesbank menyebut sistem tersebut berawal dari krisis ekonomi akibat letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada awal abad ke-18, ketika komunitas keagamaan menghimpun aset masyarakat lalu menyalurkannya kembali ke sektor usaha dengan bunga rendah. 

Purbaya meyakini pendekatan itu terinspirasi dari praktik ekonomi Islam. Karena itu, ia menilai Indonesia seharusnya mampu menerapkan ekonomi syariah secara lebih substansial, bukan sekadar mengganti istilah bunga dengan skema lain yang justru lebih mahal. 

"Kalau Jerman aja yang dianggap negara dengan struktur terkuat menjalankan prinsip yang sebenarnya syariah, kata ahli Bank Sentral itu, harusnya kita juga bisa," tegasnya. 

Mengutip dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah atau KNEKS hingga per September 2025 total aset keuangan syariah mencapai Rp12.698 triliun, tumbuh 26,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan aset keuangan nasional yang hanya 11,5%. Market share keuangan syariah juga naik menjadi 30,9% dari 27,3% setahun sebelumnya.

Di sisi perbankan syariah mencatat total aset Rp1.006 triliun, tumbuh 9,4% yoy, dengan market share 7,7%. Dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp794 triliun, tumbuh 7,51%, sementara pembiayaan syariah sebesar Rp676 triliun.

(prc)

No more pages