Untuk pasar ekuitas, indeks berjangka menunjukkan indikasi penguatan di Jepang seiring dibukanya kembali pasar pada Kamis ini setelah libur nasional. Sebaliknya, kontrak berjangka untuk indeks acuan Hong Kong dan Australia justru melemah. Indeks S&P 500 ditutup stagnan pada Rabu setelah sesi perdagangan yang fluktuatif, di mana saham jasa real estat terpukul, sementara Nasdaq 100 naik 0,3%.
Pergerakan pasar ini memberi sinyal bahwa untuk saat ini, kekuatan ekonomi AS mampu mengimbangi keinginan pasar akan biaya pinjaman yang lebih rendah. Hal ini menopang sentimen risiko yang sempat terpuruk akibat kekhawatiran seputar sektor AI dalam beberapa pekan terakhir.
Bret Kenwell dari eToro menilai laporan tenaga kerja ini seharusnya disambut baik oleh investor, meskipun memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga. "Jika pasar tenaga kerja memang benar-benar stabil, itu akan menjadi hal konstruktif bagi ekonomi maupun pasar," ujarnya.
S&P 500 ditutup di posisi 6.940. Pada perdagangan setelah jam kerja, Cisco Systems Inc memberikan proyeksi margin yang hambar, membayangi prospek positif yang didorong oleh keuntungan AI. Di sisi lain, McDonald’s Corp mencatatkan pertumbuhan penjualan tercepat di AS dalam lebih dari dua tahun.
Di Asia, data yang dijadwalkan rilis pada Kamis ini mencakup indeks kepercayaan konsumen Thailand dan angka inflasi India. Selain itu, pejabat Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia, Sarah Hunter, dijadwalkan untuk memberikan pidato.
Dari sektor komoditas, harga minyak naik seiring ketegangan di Timur Tengah yang menutupi kekhawatiran melimpahnya pasokan global. Nikel melanjutkan penguatannya setelah Indonesia memberikan sinyal pemangkasan tajam pada produksinya tahun ini, sebuah langkah yang akan membatasi pasokan dari produsen nikel terbesar di dunia tersebut.
Kekhawatiran akan kenaikan pengangguran yang sempat memicu tiga kali pemangkasan suku bunga pada akhir 2025 tampaknya mulai mereda berkat data terbaru ini. Pejabat The Fed pada pertemuan bulan lalu sebenarnya sudah mengisyaratkan tanda-tanda stabilisasi sebagai alasan untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Namun, Krishna Guha dari Evercore menilai laporan ini meredam spekulasi bahwa The Fed dapat kembali memangkas suku bunga sebelum pertengahan tahun. Hal ini juga akan memicu debat internal mengenai seberapa restriktif kebijakan saat ini.
"Jika kekuatan tenaga kerja di Januari ternyata hanya gangguan data sesaat, kita masih mungkin melihat tiga kali pemangkasan. Namun, jika kekuatan ini berlanjut, akan sangat sulit membawa Komite untuk menyetujui tiga kali pemangkasan tersebut," ungkap Guha.
Gubernur The Fed Kansas City, Jeff Schmid, berpendapat bank sentral harus menahan suku bunga pada tingkat yang "agak restriktif" karena tekanan inflasi yang masih persisten. Di sisi lain, Gubernur The Fed Stephen Miran menilai laporan tenaga kerja yang mengejutkan ini tidak lantas berarti pembuat kebijakan harus membatalkan rencana pemangkasan suku bunga tambahan.
(bbn)































