Bagi mata uang Garuda, ruang penguatan jangka pendek relatif terbuka, tapi mungkin pergerakannya akan lebih terbatas, di tengah sentimen arus modal asing yang keluar lantaran turunnya outlook kredit dari Moody's pekan lalu.
Berbeda dari pasar valuta asing yang menguat tersengat efek eksternal, pasar surat utang justru tengah menghadapi tekanan lantaran Moody's effect.
Kondisi tersebut tampak dari aksi jual yang melanda pasar surat utang sore hari ini. Terlihat dari kenaikan imbal hasil (yield) surat utang di hampir semua tenor. Data Bloomberg menunjukkan kenaikan yield merata di hampir semua tenor, baik pendek, menengah, dan beberapa di tenor panjang.
Yield 1Y bahkan telah menyentuh level 5,07% dengan kenaikan 8,6 bps, yield tenor 2Y dan 3Y masing-masing sudah tembus 5,16%dan 5,51%. Begitu juga dengan tenor 10Y, mengalami kenaikan yield 3 bps ke level 6,46%. Sementara, tenor panjang juga terkerek yield-nya menjadi 6,71% untuk tenor 20Y dan tenor 30-40Y mendekati 6,78%.
Naiknya yield di tenor pendek dan menengah mengindikasikan adanya peningkatan ekspektasi risiko jangka pendek, baik dari sisi kebijakan moneter maupun dinamika pasar keuangan. Sementara kenaikan terbatas di tenor panjang menunjukkan adanya tuntutan premi risiko yang lebih tinggi.
Kondisi ini akan memberikan tekanan lanjutan pada pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.
(dsp/aji)




























