Logo Bloomberg Technoz

Rupiah 'Pesta' Bersama Mata Uang Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
09 February 2026 15:29

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan hari hari ini menyusul terbatasnya pergerakan indeks dolar AS. 

Dalam penutupan perdagangan spot hari ini, Senin (9/2/2026), rupiah menguat 0,37% ke posisi Rp16.803/US$, setelah sempat menyentuh Rp16.860/US$. Sementara, indeks dolar AS susut lagi sebanyak 0,24% ke posisi 97,40 pada hari ini dan telah tergerus 0,96% secara year-to-date

Pelemahan yang terjadi pada dolar AS membawa penguatan terhadap beberapa mata uang Asia, terutama baht Thailand yang menguat 1,29% ditopang oleh optimisme pelaku pasar yang menganggap kemenangan partai petahana, Bhumjaithai, sebagai sinyal kepastian dan keberlanjutan kebijakan ekonomi. 


Sentimen serupa juga turut menopang yen Jepang yang bergerak menguat 0,39% dan stabil setelah kemenangan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi. Yen terapresiasi 0,6% ke JPY156,22/US$ setelah sebelumnya sempat melemah 0,3% ke JPY157,76/US$. 

Pergerakan mata uang Asia mayoritas berada di zona hijau, menyusul pelemahan dolar AS. (Bloomberg)

Meski begitu, penguatan mata uang Asia masih bergantung pada dinamika eksternal. Fokus investor kini tertuju pada arah kebijakan moneter global, terutama sinyal lanjutan dari bank sentral utama terkait pelonggaran kebijakan. Selama dolar AS belum menemukan katalis penguatan baru, mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berpotensi mempertahankan penguatannya.