Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, ekspektasi konsumen terhadap masa depan juga menguat, terutama pada komponen penghasilan dan kegiatan usaha. Indeks Ekspektasi Penghasilan melonjak ke 146,0, sementara Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha mencapai 135,3. Artinya, konsumen percaya peluang pendapatan dan aktivitas ekonomi akan membaik dalam enam bulan mendatang. 

Akan tetapi, optimisme ini tidak berlaku di semua kelompok pengeluaran. Berdasarkan kelompok pengeluaran, peningkatan keyakinan terjadi hampir di semua segmen, kecuali kelompok dengan pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta per bulan yang justru mencatat penurunan indeks.

Segmen ini konsisten menjadi anomali, baik pada IKK, IPSI, maupun IPDG, dan bisa mencerminkan tekanan biaya hidup atau stagnasi pendapatan kelas menengah bawah yang lebih sensitif terhadap inflasi.

Sementara dari sisi usia, kelompok 20-30 tahun menjadi yang paling optimistis, dengan IKK mencapai 134,2. Lalu, kelompok usia 51-60 tahun menjadi yang paling pesimis dengan IKK terkontraksi 3,9 menjadi 112,4 dari sebelumnya 116,3. 

Konsumen Menahan Belanja

Jika ditelusuri lebih dalam, meski keyakinan terhadap ekonomi secara agregat meningkat tetapi rasio konsumsi terhadap pendapatan cenderung menurun. 

“Pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 72,3%, lebih rendah dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 74,3%,” sebut Laporan BI. 

Artinya, optimisme konsumen kali ini tidak serta-merta bertransformasi menjadi aktivitas konsumsi yang lebih agresif. Hal ini juga terlihat dari data porsi tabungan yang meningkat ke 16,5%, sementara rasio cicilan relatif stabil di 11,2%. 

Rasio Tabungan per Kelompok Pengeluaran. (Sumber: Bank Indonesia)

Pola ini dapat menjadi indikasi bahwa konsumen Indonesia semakin rasional: percaya diri terhadap prospek ekonomi, tetapi juga tetap berhati-hati dalam mengelola keuangannya dengan tidak sepenuhnya melepas belanja secara ugal-ugalan. 

Lapangan Kerja dan Penghasilan Saat Ini

Di tengah capaian optimisme ekonomi, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja justru cenderung stagnan. Hal ini mengisyaratkan kehati-hatian terhadap dinamika pasar tenaga kerja. Kelompok pengeluaran Rp1-2 juta per bulan dan Rp4,1-Rp5 juta justru mencatatkan penurunan keyakinan terkait lapangan kerja dan penghasilan saat ini. 

Hal ini terlihat dari angka penurunan dalam Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) pada dua kelompok pengeluaran tersebut, dan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat turun untuk kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta. 

Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) kelas menengah (pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta) tercatat turun. (Sumber: Bank Indonesia)

IKLK kelompok pengeluaran Rp1-Rp2 juta turun 2,4 menjadi 101,1 dari 103,5, dan kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta turun 4,1 dari 111,1 menjadi 107. Adapun IPSI kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta turun cukup dalam 12,9 dari sebelumnya 131,7 menjadi 118,8. 

Kedua kelompok pengeluaran ini agaknya masih mengalami tekanan dan kerentanan struktural di pasar tenaga kerja. 

Untuk kelompok pengeluaran Rp1-2 juta, penurunan IKLK bisa jadi cerminan kondisi rapuhnya rasa aman di kelompok berpendapatan rendah. Umumnya kelompok ini bekerja di sektor informal, padat karya, atau pekerjaan lain yang berupah rendah dan sangat sensitif terhadap perlambatan aktivitas ekonomi. 

Sementara, kelompok pengeluaran Rp4,1-Rp5 juta yang merupakan kelompok kelas menengah dan umumnya bekerja di sektor formal juga tengah menghadapi tekanan pendapatan. Kondisi ini bisa mencerminkan adanya kenaikan biaya hidup yang menggerus daya beli, adanya penghapusan insentif atau lembur, atau adanya penyesuaian gaji yang tidak lagi dapat mengejar laju inflasi. 

Kelompok pengeluaran ini agaknya menjadi segmen konsumen yang berada di posisi paling terjepit. Seperti yang sering disebut, bahwa kelas menengah tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan sosial, tapi juga belum cukup mapan untuk tahan terhadap guncangan ekonomi. 

Jika mencermati dua kelompok pengeluaran ini, kita bisa menafsirkan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia mungkin sedang berada dalam fase penyesuaian, bukan ekspansi.

Survei Keyakinan Konsumen kali ini memang menghasilkan kenaikan indeks ekspektasi penghasilan dan kegiatan usaha secara agregat, tapi perusahaan nampaknya masih berhati-hati dalam membuka lapangan kerja baru atau menaikkan upah secara luas. Ini mengapa ekspektasi lapangan kerja cenderung stagnan di tengah optimisme lainnya yang cenderung naik. 

Mungkin konsumen tetap optimis terhadap kondisi ekonomi secara umum, tapi mereka juga rasional untuk melihat sinyal bahwa kondisi lapangan kerja belum banyak membuka kesempatan secara luas. 

(dsp/aji)

No more pages