Logo Bloomberg Technoz

Analis Global: Tumbuh 5,11%, Ekonomi RI Disiplin & Kredibel

Redaksi
05 February 2026 12:06

Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh (Diolah dari Berbagai Sumber)
Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh (Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 kembali mendapat sorotan positif dari analis global.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% dengan output nominal mencapai Rp23.821,1 triliun dinilai bukan sekadar capaian angka, tetapi refleksi dari fondasi makroekonomi yang kuat, disiplin, dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai pertumbuhan tersebut mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan stabilitas makro. Menurut dia, kebijakan ekonomi yang konsisten dan terukur membuat Indonesia mampu tumbuh di atas tren tanpa memicu tekanan struktural yang berlebihan.

“Pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,11% pada 2025 menunjukkan ekonomi yang mampu tumbuh di atas tren tanpa tergelincir secara makro. Prospek pertumbuhan 2026 di kisaran 5% hingga 6% tetap kuat, ditopang kredibilitas kebijakan dan pengelolaan makro yang disiplin,” ujar Shan dalam laporannya, Kamis (5/2/2026).

Shan Saeed, Chief Economist Juwai IQI Global (Dok. Ist)

Ia memproyeksikan kinerja ekonomi Indonesia pada 2026 tetap solid, berada di rentang 5% hingga 6%. Proyeksi tersebut ditopang oleh perbaikan komposisi pertumbuhan, koordinasi kebijakan yang konsisten, serta kredibilitas otoritas ekonomi dalam merespons dinamika global secara berbasis data.

Dari sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama. Kontribusinya yang mencapai sekitar 54% hingga 55% terhadap produk domestik bruto menjadikan konsumsi sebagai jangkar stabilitas ekonomi nasional di tengah fluktuasi eksternal.

Shan menilai ketahanan pasar tenaga kerja, inflasi yang semakin terkendali, serta peningkatan pendapatan riil masyarakat menjadi faktor penting yang menjaga daya beli. Kondisi ini membuat konsumsi rumah tangga Indonesia relatif tahan terhadap guncangan global.

“Konsumsi rumah tangga terus menjadi jangkar permintaan yang stabil dan dapat diandalkan, didukung ketahanan pasar tenaga kerja dan meredanya dinamika inflasi,” kata Shan.

Ia juga menyoroti tren positif pendapatan per kapita Indonesia yang terus mendekati ambang US$5.000. Peningkatan ini dinilai memperluas basis konsumsi domestik sekaligus mendorong mobilitas sosial dan pembentukan kelas menengah yang lebih kuat.

Investasi dan Struktur Ekonomi Menguat

Dari sisi investasi, Indonesia dinilai sedang berada pada titik infleksi yang krusial. Arah pembentukan modal semakin bergeser ke sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, hilirisasi industri, serta penataan ulang rantai pasok global. Menurut Shan, sektor-sektor ini memiliki korelasi kuat dengan peningkatan produktivitas dan pertumbuhan jangka panjang.

Momentum investasi tersebut diperkuat oleh arus investasi asing langsung yang diperkirakan mencapai US$45 miliar hingga US$50 miliar sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan tingkat kepercayaan investor global terhadap kerangka kebijakan serta kapasitas eksekusi proyek di Indonesia.

“Secara keseluruhan, ini menunjukkan pendalaman modal, bukan sekadar stimulus jangka pendek, yang memperkuat potensi pertumbuhan jangka menengah,” ujarnya.

Di sektor eksternal, kinerja ekspor Indonesia juga menunjukkan perbaikan struktural. Nilai ekspor barang diperkirakan berada di kisaran US$260 miliar hingga US$270 miliar pada 2025. Meski perdagangan global belum sepenuhnya pulih, struktur ekspor Indonesia dinilai semakin naik kelas.

Hilirisasi mineral, penguatan sektor manufaktur, serta peningkatan porsi komoditas bernilai tambah tinggi membuat penerimaan eksternal Indonesia lebih berimbang. Menurut Shan, perubahan struktur ini mengurangi ketergantungan terhadap siklus harga komoditas mentah yang selama ini menjadi sumber volatilitas.

Dari sisi kebijakan moneter, otoritas dinilai masih memiliki ruang untuk bersikap fleksibel namun terukur. Fokus utama tetap pada pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, serta ketahanan arus modal di tengah dinamika kebijakan global.

“Pelaksanaan kebijakan dalam beberapa tahun terakhir ditandai kalibrasi yang terukur dan konsistensi kelembagaan, sehingga menopang kepercayaan pasar di berbagai fase siklus,” kata dia.

Sementara itu, kebijakan fiskal Indonesia juga dinilai tetap berada di jalur yang pruden. Rasio utang pemerintah terhadap PDB berhasil dipertahankan di bawah 40%, menjadi sinyal kuat disiplin fiskal di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat turut meningkatkan elastisitas penerimaan negara, sehingga mendukung konsolidasi anggaran tanpa harus mengorbankan belanja produktif. Belanja pemerintah dan proyek strategis nasional dipandang berperan sebagai katalis bagi investasi swasta, bukan sebagai pengganti permintaan pasar.

Menurut Shan, pembangunan infrastruktur dan program hilirisasi membantu menekan hambatan sisi pasokan, menurunkan biaya logistik, serta meningkatkan kepastian eksekusi proyek. Dampak lanjutannya adalah perbaikan iklim usaha dan peningkatan daya saing ekonomi nasional.

Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi 5% hingga 6% pada 2026, rasio utang yang rendah, arus investasi asing yang kuat, serta kinerja ekspor di atas US$260 miliar, Indonesia dinilai menawarkan proposisi ekonomi yang menarik di kawasan.

“Indonesia menawarkan proposisi yang kuat: skala dengan stabilitas, pertumbuhan dengan kredibilitas,” ujar Shan.

Ia menambahkan, fokus kebijakan pada peningkatan pendapatan, produktivitas, dan standar hidup masyarakat akan menjaga fundamental makro sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi ke depan. Dengan arah kebijakan tersebut, posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik di mata investor global diyakini tetap terjaga pada 2026 dan seterusnya.