Untuk kuartal IV-2025, median hasil menunjukkan angka sebesar 5,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan capaian kuartal sebelumnya yang menyentuh angka 5,04%. Secara kuartal, ekonomi diproyeksikan tumbuh 0,65%.
"Kami memperkirakan pertumbuhan naik menjadi 5,12% [yoy] pada kuartal IV-2025, dari 5,04% pada kuartal sebelumnya," kata Tamara Handerson, ekonom Bloomberg, dalam catatannya.
Perbaikan ini sejalan dengan berbagai langkah pemerintah dalam menopang pertumbuhan, seperti stimulus fiskal, penyaluran bantuan sosial, serta kebijakan penguatan pasar tenaga kerja.
Hal ini akan turut mendongkrak belanja pemerintah selama kuartal akhir 2025 tersebut, utamanya pada pengeluaran material dan juga gelontoran bantuan sosial (bansos).
Bank Permata
Di sisi lain, ekonom Bank Permata Faisal Rachman memproyeksikan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 5,07%, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 5,03%.
Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih rendah dibandingkan target yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025 sebesar 5,2%. Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV-2025 diperkirakan mencapai 5,25%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang masih 5,04%.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat dari 5,04% (yoy) pada 3Q25 menjadi 5,25% (yoy) pada 4Q25, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 ke 5,07%," ujarnya saat dihubungi.
Faisal menekankan proyeksi tersebut masih lebih tinggi ketimbang capaian sebelumnya, lantaran adanya perbaikan permintaan domestik dan konsumsi rumah tangga seiring dengan agenda pertumbuhan pemerintah.
Pemerintah, kata dia, sejak akhir tahun juga tengah gencar mendorong belanja lewat sejumlah program stimulus fiskal dan bantuan sosial yang dapat mendongkrak konsumsi rumah tangga selama periode Oktober-Desember 2025 yang juga diperkirakan akan mendekati level pertumbuhan di angka 5%.
"Sebagian besar indikator awal, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen (IKK/CCI), penjualan ritel, penjualan mobil dan sepeda motor, serta impor barang konsumsi, menunjukkan perbaikan yang merata," tutur dia.
"Tren ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan, seperti stimulus fiskal, bantuan sosial, serta kebijakan untuk memperkuat pasar tenaga kerja."
S&P Global
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sampai menyentuh 5% sepanjang 2025, melanjutkan kinerja yang sebelumnya diperoleh pada kuartal pertama lalu, yakni 4,87%.
Berdasarkan laporan terbarunya yang dirilis pada Selasa (29/7/2025), S&P menyatakan proyeksi tersebut diberikan lantaran indikator ekonomi dalam negeri terbilang masih lesu, seperti kurangnya belanja infrastruktur hingga konsumsi rumah tangga.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB riil Indonesia sedikit di bawah 5% tahun ini karena permintaan domestik menunjukkan tanda-tanda melemah di awal tahun," tulis laporan yang dirilis medio 2025 lalu.
Pasalnya, lanjut laporan tersebut, belanja infrastruktur memiliki pengganda fiskal yang tinggi bagi pertumbuhan, dan sekaligus "membantu meringankan kendala pasokan dan hambatan infrastruktur."
IMF
Dana Moneter Internasional (IMF) justru memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hanya sebesar 4,8%, dalam laporan outlook Juli 2025 lalu.
Namun, prediksi itu lebih tinggi dibanding perkiraan semula yang dirilis dalam outlook April yang hanya mencapai 4,7%.
(ibn/ros)

























