Meski konsumsi bukan jadi penekan utama, tapi pertumbuhan ritel China juga melambat 0,9% yoy pada Desember, dari puncaknya 6,4% pada Mei dan 5% pada paruh pertama 2025.
Sementara perlambatan impor dapat dipahami sebagai cerminan kondisi pasar dan ekonomi domestik. Proyeksi capaian impor yang masih terkontraksi 2,7% mengindikasikan dunia usaha masih menahan ekspansi, sementara konsumsi belum cukup kuat untuk mendorong permintaan barang impor.
Pemerintah menilai kondisi fundamental domestik masih cukup sehat. Inflasi tercatat rendah, yakni 2,92% pada Desember 2025.
Sementara itu, inflasi inti berada di kisaran 2,3%. Jika komponen harga emas dikeluarkan, inflasi bahkan hanya sekitar 1,5%.
"Core inflasi kita masih 2,3%, kalau kita keluarkan harga emas inflasi sekitar 1,5% jadi sebetulnya demand-nya masih relatif rendah. Belum ada demand pull inflation artinya saya bisa mendorong ekonomi ketinggian yang lebih cepat lagi," kata Purbaya.
Core inflation merupakan ukuran inflasi yang menyaring harga-harga yang paling mudah naik-turun dan seringkali dipengaruhi oleh faktor sementara, misalnya harga pangan yang bergejolak, harga energi, dan harga emas. Seperti kita tahu, emas dalam beberapa bulan terakhir mengalami lonjakan signifikan.
Pada akhir Desember lalu, harga emas telah mencapai Rp2,59 juta per gram. Bahkan pada bulan pertama 2026 harganya melambung menjadi Rp3,12 juta per gram. Dalam satu bulan kenaikannya sudah mencapai 20,46%.
Ketika harga emas dikeluarkan dari perhitungan inflasi akhir tahun lalu, menunjukkan angka 1,5% yang menandakan aktivitas belanja masyarakat relatif rendah. Sebab, harga emas cenderung dipengaruhi oleh faktor global dan bukan cerminan konsumsi masyarakat sehari-hari.
Dengan core inflation yang relatif rendah di akhir tahun lalu, mengindikasikan tidak adanya demand pull inflation atau inflasi yang terjadi akibat melonjaknya permintaan barang dan jasa. Artinya, permintaan masyarakat pada akhir tahun lalu belum terlalu panas. Ini sejalan dengan prediksi para ekonom yang memperkirakan capaian pertumbuhan impor masih terkontraksi.
Meski begitu, dia menyebut pada triwulan I-2026 ekonomi Indonesia diperkirakan sudah tumbuh sekitar 5,5%. Menurutnya, percepatan belanja pemerintah akan mulai terasa sejak awal tahun. Selain itu, efek musiman seperti Lebaran yang jatuh pada Maret 2026 diyakini akan dapat konsumsi masyarakat secara signifikan.
(riset/aji)






























