Logo Bloomberg Technoz

Meski secara formal tidak mengubah kerangka kebijakan moneter, perubahan ini menimbulkan pertanyaan terkait independensi bank sentral dan konsistensi arah kebijakan ke depan. Ini menjadi isu sensitif bagi investor global di tengah kondisi pasar yang relatif rapuh. 

Di sisi lain, otoritas bursa ikut dalam pengawasan pasar setelah meningkatnya volatilitas dan tekanan jual di pasar saham dua hari terakhir. Belum reda sentimen terkait pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia, tekanan tambahan terjadi dengan mundurnya kepala otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rahman, pagi ini.  

“Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Dengan kombinasi sentimen eksternal dan internal tersebut, ruang penguatan rupiah ke depan diperkirakan masih terbatas. Pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada stabilitas arus modal, sinyal kebijakan otoritas moneter, juga langkah konkret regulator pasar dalam meredam volatilitas. 

Risiko Turun Peringkat

Pasca MSCI merilis pengumuman itu, analis Goldman Sachs Group Inc. juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan bahwa kekhawatiran MSCI Inc. soal aspek investability berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari US$13 miliar apabila pasar Indonesia sampai diturunkan statusnya ke kategori frontier market.

Dalam skenario ekstrem, Goldman bahkan memperkirakan reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) dapat memaksa dana pasif yang mengikuti indeks MSCI melepas aset mereka hingga US$7,8 miliar. Risiko arus keluar tambahan senilai US$5,6 miliar juga muncul apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float saham-saham Indonesia.

“Kami memperkirakan aksi jual pasif akan berlanjut dan memandang perkembangan ini sebagai beban (overhang) yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporan mereka, seperti dikutip Bloomberg News.

Goldman menilai posisi manajer investasi aktif regional yang saat ini overweight di Indonesia justru memperbesar risiko koreksi. Potensi penurunan status, dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar dan kemungkinan menyusutnya likuiditas, dapat mendorong investor long-only untuk menyeimbangkan ulang portofolio. Situasi ini juga berpeluang memicu arus spekulatif dari hedge fund.

Tekanan ini makin diperkuat oleh langkah UBS Group AG yang juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Dalam catatannya, UBS menilai kekhawatiran MSCI terkait investability dan potensi reklasifikasi ke status frontier market akan menjadi beban berkepanjangan bagi pasar hingga ada kejelasan arah kebijakan regulator serta hasil penilaian ulang MSCI.

“Kami memperkirakan overhang di pasar akan bertahan sampai terdapat kejelasan regulasi dan evaluasi MSCI,” tulis analis UBS yang dipimpin Sunil Tirumalai dalam riset tertanggal 28 Januari.

(riset)

No more pages