"Kami, Bank Indonesia dan pemerintah, akan memastikan inflasi stabilitas harga [tetap terjaga]," ungkapnya.
"Berhentilah wait and see. Kalau kita terus dengan wait and see, kita akan tertinggal kereta," tegas Perry.
Dia menekankan pentingnya membangun keyakinan bersama untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi. Menurutnya, optimisme menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melaju lebih tinggi.
"[Jadi] mari Optimis, Optimis, Optimis. Yakin bahwa 2026, 2027 akan lebih baik," tekannya.
Sejalan dengan optimismenya tersebut, Perry meminta kepada industri perbankan mendorong peningkatan penyaluran kredit. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun ini dapat mencapai kisaran 8% hingga 12%, dan akan didorong lebih tinggi lagi pada 2027 di rentang 9% hingga 13%.
Selain kredit, Perry juga menegaskan komitmen BI dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran. Bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), BI menargetkan volume transaksi digital mencapai sekitar 17 miliar transaksi pada 2026.
Penggunaan QRIS juga terus diperluas dengan target 60 juta pengguna, di mana sekitar 45 juta di antaranya berasal dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di tingkat global, BI akan memperluas konektivitas QRIS setelah penerapannya dilakukan pada delapan negara, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea Selatan, India, dan Arab Saudi.
(lav)































