Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan moneter serta stabilitas nilai tukar Rupiah yang kembali menjadi faktor utama penggerak pasar saham.
Secara sektoral, penguatan IHSG pada awal pekan ditopang oleh saham-saham sektor basic materials, seiring kenaikan harga komoditas. Sebaliknya, sektor energi mengalami koreksi terdalam, dipicu pelemahan saham BUMI, PTRO, dan DEWA, yang dikaitkan dengan antisipasi pasar terhadap pengumuman metodologi perhitungan free-float saham Indonesia oleh MSCI.
Dari sisi teknikal, Hendra menilai IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah reli yang cukup panjang. Level 8.900 menjadi area support penting untuk menjaga tren jangka pendek tetap positif. “Selama IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan lanjutan masih terbuka,” jelas dia.
Namun demikian, tekanan di sisi atas masih cukup kuat. Resistance terdekat berada di area 9.067 hingga 9.100, yang diperkirakan menjadi tantangan utama bagi pergerakan indeks.
Namun, apabila belum mampu menembus area tersebut, IHSG berpotensi bergerak terbatas atau sideways dengan volatilitas yang tetap tinggi. Untuk jangka pendek, pergerakan IHSG diproyeksikan berada dalam kisaran 8.900-9.100.
Sejalan dengan itu, riset Phintraco Sekuritas juga memperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di rentang 8.850-9.100. Indikator Stochastic RSI berada di area oversold namun belum menunjukkan sinyal pembalikan arah, sementara histogram negatif pada indikator MACD masih melebar.
Dari sisi makro domestik, perhatian pasar tertuju pada perkembangan kebijakan Bank Indonesia, termasuk terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Hendra menilai sentimen tersebut cenderung netral hingga positif dalam jangka pendek karena proses uji kelayakan dan kepatutan berjalan sesuai mekanisme institusional.
Pasar sebelumnya sempat merespons negatif isu tersebut, yang tercermin dari pelemahan Rupiah hingga mendekati Rp16.900/US$. Namun, penguatan Rupiah kembali ke level Rp16.782/US$ pada perdagangan Senin menunjukkan kekhawatiran pasar mulai mereda.
Ke depan, stabilitas nilai tukar Rupiah dipandang menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pergerakan IHSG, terutama dalam meredam tekanan jual investor asing. Selama Rupiah bergerak stabil dan komunikasi kebijakan BI tetap kredibel, ruang penguatan IHSG dinilai masih terbuka dengan dukungan saham-saham berkapitalisasi besar.






























