Di sisi yang sama dengan IHSG, Bursa Asia lain berhasil melesat di jalur hijau, menyusul KOSDAQ (Korea), KLCI (Malaysia), TAIEX (Taiwan), CSI 300 (China), dan Hang Seng (Hong Kong) yang menguat masing–masing 7,09%, 1,4%, 0,32%, 0,09%, dan 0,06%.
Sementara lainnya masih melemah hingga tutup perdagangan. Mereka adalah TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Tokyo), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), PSEI (Filipina), SENSEX (India), Shenzhen Comp. (China), KOSPI (Korea Selatan), Straits Time (Singapura), SETI (Thailand), dan Shanghai Composite (China) yang masing–masing melemah 2,13%, 1,79%, 1,45%, 0,94%, 0,94%, 0,92%, 0,81%, 0,62%, 0,56%, dan 0,09%.
Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari regional. Mata uang JPY terus melemah di tengah kecemasannya tentang posisi fiskal negara Jepang, keputusan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut, dan juga ekspektasi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga minggu ini.
Pasar juga mencermati nilai USD yang jatuh dalam beberapa hari setelah para pejabat di Jepang dan AS mengindikasikan– mereka siap untuk melakukan intervensi pasar guna mendukung nilai tukar JPY.
Tim Research Phillip Sekuritas memaparkan, Prospek campur tangan otoritas di pasar keuangan menyebabkan USD melemah terhadap hampir semua mata uang utama di dunia seperti EUR, GBP, dan Won serta SGD.
“Hal itu kemudian menyebabkan harga emas melonjak menembus level psikologis US$5.000 untuk pertama kalinya karena investor berbondong-bondong memburu aset yang dianggap aman (safe-haven),” mengutip riset harian Tim Research Phillip Sekuritas.
Seperti yang diwartakan Bloomberg News, pasar Asia dalam kehati–hatian tinggi terhadap intervensi pemerintah Jepang—mungkin dengan bantuan AS yang jarang terjadi. Pasalnya, Perdana Menteri Sanae Takaichi memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap pergerakan abnormal.
Ditambah lagi kegelisahan pasar, mengingat Presiden AS Donald Trump sedang mengacaukan hubungan dengan sekutu–sekutu utamanya, mulai dari Eropa hingga Kanada.
Donald Trump mengancam Kanada dengan tarif 100% terhadap semua ekspornya ke AS jika negara itu menandatangani kesepakatan dagang dengan China. Hal ini memperburuk ketegangan antara Washington dan negara tetangga utaranya.
Sentimen selanjutnya datang dari keputusan suku bunga oleh The Fed. Bank sentral AS diprediksi akan mempertahankan suku bunga pada Rabu, biarpun Trump terus mendesak penurunan biaya pinjaman.
Sejumlah Ekonom memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya, di tengah dinamika perebutan kursi kepemimpinan Bank Sentral tersebut.
“Kami menilai sebagian besar anggota FOMC akan menggunakan data ekonomi untuk membenarkan keputusan menahan suku bunga pada pertemuan ini,” sebut riset Bloomberg Economics.
Dari sisi fundamental, tingkat pengangguran AS menurun pada Desember, sementara inflasi masih bertahan di atas target The Fed, sehingga pelonggaran kebijakan dinilai belum mendesak.
(fad/wep)




























