Sebelumnya, Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, menyatakan Danantara hanya akan masuk ke pasar obligasi global ketika kondisi dinilai kondusif. Salah satu indikator utama yang diperhatikan adalah pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat, karena penurunan yield dinilai dapat membuat selisih imbal hasil lebih menarik sekaligus menekan biaya penerbitan.
Ali menjelaskan, Danantara berencana memulai proses pre-rating pada 2026 dengan melibatkan lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch, S&P, dan Moody’s. Tahap ini dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai potensi peringkat kredit sebelum perusahaan benar-benar menawarkan obligasi di pasar global. Melalui proses tersebut, Danantara dapat memperkirakan tingkat imbal hasil yang berpotensi ditawarkan, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya pendanaan.
Ia menambahkan, fokus utama Danantara adalah menuntaskan seluruh tahapan pre-rating. Danantara menegaskan tidak akan melanjutkan penerbitan obligasi global apabila hasil pemeringkatan dinilai belum memadai untuk menjaga biaya pendanaan tetap terkendali.
Rencana penerbitan obligasi global ini melengkapi upaya pendanaan Danantara yang sebelumnya telah menghimpun dana melalui penerbitan patriot bond domestik serta memperoleh fasilitas kredit sindikasi tanpa agunan dari perbankan luar negeri.
(dhf)





























