Adapun, program MBG diinisiasi pemerintah pada 6 Januari 2025 lalu, dengan dapur awal sebanyak 190 unit yang menyediakan 570.000 porsi makanan per hari.
Belakangan, program MBG telah membangun 21.102 dapur yang beroperasi di seluruh Indonesia.
“Hingga tadi malam, kami memproduksi 59,8 juta porsi makanan untuk 59,8 juta anak, ibu, dan lansia yang hidup sendiri, mereka menerima makanan ini setiap hari,” tuturnya.
“Sebagai perbandingan, McDonald’s memulai dapur pertamanya pada tahun 1940, dan untuk mencapai 68 juta porsi per hari, mereka membutuhkan waktu sekitar 55 tahun,” kata dia.
Anggaran 2026
Total alokasi anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang 2026 ini tercatat Rp335 triliun. Angkanya naik lebih dari lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya Rp51,5 triliun.
Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tercantum, sebanyak Rp255,5 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional atau pembelian makanan bergizi.
Artinya, biaya yang akan digunakan untuk membeli makanan hanya 76% dari total anggaran yang dialokasikan untuk Program MBG.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan Deni Surjantoro menjelaskan rincian alokasi anggaran Program MBG pada tahun ini.
Dari total Rp335 triliun, sebanyak Rp268 triliun di antaranya dialokasikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga utama pelaksana program tersebut.
Sementara itu, sisanya sebanyak Rp67 triliun disiapkan dalam pembiayaan belanja non Kementerian/Lembaga (K/L) sebagai cadangan kebutuhan program ke depan. Namun, dalam UU, tak ada rincian dan penjelasan terkait pembiayaan belanja non-K/L yang dimaksud hingga perlu menghabiskan alokasi jumbo tersebut.
"Pemerintah mengalokasikan Rp335 T untuk melaksanakan program MBG di 2026. Sebesar Rp268 T dialokasikan melalui belanja K/L pada BGN, dan sebesar Rp67 T dialokasikan dalam pembiayaan/belanja non K/L sebagai antisipatif kebutuhan program MBG," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Pada tahun lalu, BGN hanya mampu menyalurkan alokasi anggaran sebesar Rp51,5 triliun atau hanya 72,5% dari total pagu yang dialokasikan mencapai Rp71 triliun.
Di saat yang sama, jumlah target penerima pada 2026 hanya bertambah 32% menjadi 82,9 juta orang dibanding peserta yang telah menikmati MBG pada tahun lalu, yakni sebanyak 56,13 juta penerima manfaat.
(naw)



























