Logo Bloomberg Technoz

Perseteruan AS dan Eropa terkait Greenland sudah cukup mereda setelah Presiden Trump mengatakan ia akan menahan diri untuk tidak mengenakan tarif pada barang-barang dari negara-negara Benua Biru yang menentang upayanya untuk mengambil alih Greenland. Ia beralasan telah membentuk “kerangka kesepakatan masa depan” yang telah ia sepakati mengenai pulau tersebut.

Meredanya tensi ini tidak sepenuhnya membuat mata uang Asia aman dalam jangka menengah dan panjang. Tensi ini bisa kembali meninggi jika kesepakatan itu tidak sesuai dengan kemauan AS dan delapan negara Eropa yang terlibat dalam traktat perdagangan internasional.

Dari sisi domestik, sejatinya rupiah masih cukup rapuh. Salah satu risiko berasal dari keputusan MSCI terkait pengetatan definisi free float yang berpotensi memicu arus keluar dana hingga US$2 miliar dari pasar keuangan domestik.

Walaupun implementasinya baru efektif pada Mei, keputusan yang diambil pada akhir Januari ini dapat langsung memengaruhi sentimen pasar.

Lebih dalam, tekanan rupiah mencerminkan kegelisahan pasar terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia. Defisit APBN 2025 tercatat 2,92% dari PDB, lebih lebar dari proyeksi tengah tahun sebesar 2,8% dan nyaris menyentuh batas psikologis 3%. 

Dengan kondisi domestik yang masih rapuh, penguatan rupiah ini merupakan respons jangka pendek terkait sentimen eksternal dan sinyal kebijakan, bukan jadi cerminan perubahan fundamental. 

Saktiandi Supaat, Analis Fixed Income Maybank, dalam laporannya memperkirakan rupiah akan bergerak di di kisaran Rp16.900/US$ pada kuartal I-2026, Rp16.700/US$ pada kuartal II-2026, Rp17.000/US$ pada kuartal III dan IV 2026.

(dsp/aji)

No more pages