Logo Bloomberg Technoz

Perbedaan ini mengindikasikan bahwa permintaan China dalam dua bulan terakhir melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya rendah, setelah sekitar satu tahun mengalami penurunan impor.

Kesenjangan data tersebut kemungkinan muncul karena Rusia semakin banyak menggunakan apa yang disebut kapal “bayangan” (shadow tankers) yang menyamarkan lokasi mereka untuk mengirim gas yang terkena sanksi.

Alternatif lainnya, perbedaan ini bisa mencerminkan perbedaan waktu antara saat kargo tiba di China dan saat kargo tersebut diselesaikan proses bea cukainya.

Pelacakan kapal individual telah menjadi metode utama untuk memperkirakan arus LNG global selama satu dekade terakhir.

Meski perbedaan dengan data resmi bea cukai cukup umum terjadi, selisih sebesar yang terlihat pada laporan impor Rusia ke China tergolong jarang.

Lonjakan pembelian LNG China dari Rusia. (Bloomberg)

Alasan pasti dari perbedaan tersebut masih belum jelas. Administrasi Bea Cukai China tidak menanggapi permintaan komentar.

China mungkin mencatat impor pada waktu yang berbeda dibandingkan dengan data pelacakan kapal, tergantung kapan kargo lolos bea cukai, kata Wei Xiong, kepala riset gas China di Rystad Energy AS.

“Jadi, untuk periode singkat seperti setiap bulan, kedua sumber bisa menunjukkan data yang berbeda,” ujarnya.

Analis lain berpendapat perbedaan ini bisa mengindikasikan lebih banyak pengiriman yang terkena sanksi AS dengan memalsukan lokasi, sehingga menekan angka pelacakan kapal, atau bahkan kemungkinan bahwa data bea cukai tersebut keliru.

China mulai mengimpor LNG Rusia yang masuk daftar hitam pada Agustus, dan telah menerima sekitar dua lusin kargo di terminal Beihai di selatan negara itu dengan diskon besar dibandingkan harga spot.

Pada saat yang sama, armada kapal bayangan yang mengangkut bahan bakar tersebut makin meningkatkan upaya untuk menghindari pembatasan Barat.

Menurut data bea cukai China, negara itu membeli 9,8 juta ton LNG Rusia tahun lalu, tertinggi sepanjang sejarah.

Sementara itu, total impor LNG China justru merosot 11% tahun lalu akibat permintaan yang lesu, persediaan yang menumpuk, serta impor melalui pipa yang kuat.

(bbn)

No more pages