Erani juga mengaku Kementerian ESDM belum menetapkan target groundbreaking tersebut dilakukan, dia hanya menegaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengarahkan proyek tersebut agar segera dirampungkan.
“Ini kan mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Karena kan sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan,” ucap dia.
Untuk diketahui, groundbreaking proyek ekosistem baterai terintegrasi yang digarap Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama anak usaha Huayou, alias Proyek Titan, resmi mundur dari rencana sebelumnya pada September 2025.
Proyek tersebut sempat ditargetkan bakal mulai pembangunan pertamanya pada Desember 2025, namun meleset kembali.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menargetkan Proyek Titan garapan konsorsium Huayou dan IBC rampung pada akhir 2027.
Awalnya, pemimpin konsorsium proyek ini adalah LG Energy Solution Ltd. (LGES) yang belakangan didepak pemerintah lantaran berlarut-larutnya rencana investasi. Huayou kemudian mengambil alih posisi pimpinan konsorsium untuk melanjutkan proyek.
Hampir serupa dengan Proyek Dragon besutan CATL-IBC yang baru diresmikan pemerintah, Proyek Titan juga dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, fasilitas pengolahan nikel HPAL, prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.
Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Bahlil sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.
Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%.
Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.
(azr/naw)































