Dengan kondisi tersebut, sekitar 20 % dari total pagu anggaran Kemenpar 2026 tidak dapat dimanfaatkan secara langsung.
Ia menambahkan, Kementerian Keuangan telah memberikan penjelasan rinci terkait pemindahan sejumlah komponen dan akun belanja ke dalam rincian keluaran khusus Direktif Presiden. Kebijakan ini berdampak pada berkurangnya ruang gerak Kemenpar dalam mengelola anggaran operasional.
Widiyanti mencontohkan, anggaran perjalanan dinas dalam negeri pada DIPA awal 2026 mengalami penurunan signifikan hingga 49,21%. Sementara itu, anggaran perjalanan dinas luar negeri, termasuk untuk promosi pariwisata mancanegara dan fasilitasi industri ke pameran wisata internasional, turun sebesar 31,56%.
Kondisi tersebut, lanjut Widiyanti, memengaruhi cara Kemenpar menjalankan program-programnya. Dalam semangat efisiensi, pihaknya mengoptimalkan koordinasi melalui platform digital serta metode webinar untuk mengurangi keterbatasan pendampingan secara tatap muka.
“Meski dengan anggaran yang terbatas, kami akan berusaha semaksimal mungkin mempertahankan bahkan meningkatkan jangkauan dan efektivitas kinerja pada tahun ini,” tegasnya.
Secara lebih rinci, penurunan anggaran pada 2026 terjadi di sejumlah satuan kerja. Pada Satuan Kerja Pusat, terdapat tiga deputi yang mengalami penurunan anggaran yang dapat digunakan, yakni Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur sebesar 12,19% dari Rp48 miliar di 2025 menjadi Rp42 miliar di 2026.
Deputi Bidang Industri dan Investasi sebesar 20,56%, Rp23 miliar di 2026 dibandingkan Rp29 miliar di 2025, serta Deputi Bidang Acara sebesar 6,82% Rp150 miliar di 2026 dibandingkan Rp280 miliar di 2025.
Selain itu, Politeknik Pariwisata secara keseluruhan mengalami penurunan pagu sebesar 5,95%. Penurunan terjadi di Poltekpar Lombok 3,57%, Poltekpar NHI Bandung 6,46%, Poltekpar Bali 7,21%, Poltekpar Makassar 10,69%, dan Poltekpar Medan 5,95%.
Meski demikian, Widiyanti memastikan Kemenpar tetap memprioritaskan program unggulan seperti peningkatan keselamatan berwisata, Desa Wisata, Pariwisata Berkualitas, Event by Indonesia, serta Tourism 5.0 yang difokuskan pada digitalisasi perizinan event.
(dec)





























