Pembelian tersebut terjadi saat harga aset digital mulai pulih dari penurunan harga pada akhir 2025 setelah crash Oktober yang mempengaruhi Bitcoin, Ether, dan sejumlah koin lainnya. Bitcoin turun 24% dalam tiga bulan hingga 31 Desember, penurunan terbesar sejak kuartal kedua 2022.
Setelah berfluktuasi di sekitar US$97.000 pekan lalu, token tersebut anjlok tajam pada Minggu, diperdagangkan sekitar US$92.000.
Baca Juga: Bitcoin Kembali Melemah ke U$88 Ribuan
Penurunan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengusulkan pungutan baru terhadap delapan negara Eropa. Penjualan besar-besaran tersebut menghilangkan sekitar US$100 miliar dari nilai total pasar kripto, menurut data CoinGecko.
Saham Strategy turun sekitar 6% menjadi US$163 pada pukul 09:32 pagi di New York pada Selasa. Bitcoin hingga artikel ini dimuat mengalami pelemahan 3,3% menjadi US$89.343.
Strategy, yang mengelola sekitar US$65 miliar (sekitar Rp1.102 triliun) dalam bentuk kripto, menghadapi skeptisisme investor yang semakin meningkat terhadap model perusahaan treasury.
Strategy adalah pelopor institusi yang rajin mengakumulasi Bitcoin. Perusahaan milik Michael Saylor tersebut sebelumnya bergerak pada industri teknologi, khususnya penjualan perangkat software.
Strategy sebelumnya mengumumkan bahwa mereka mengalami kerugian tidak terealisasi sebesar US$17,44 miliar pada kuartal keempat akibat penurunan nilai cadangan kripto mereka. Hasil akhir kuartal tersebut akan diumumkan pada 5 Februari.
(bbn)





























