Jumlah pengunjung dari China sempat tumbuh dengan laju 40,7% dalam 10 bulan pertama tahun ini, menurut Japan National Tourism Organization. Wisatawan China merupakan pembelanja terbesar di Jepang, menyumbang seperlima dari pendapatan pariwisata negara itu yang mencapai ¥8,1 triliun (US$52,4 miliar) pada 2024. Sebagai gambaran dampaknya terhadap sektor ritel, penjualan bebas bea di department store Jepang merosot tajam pada Desember.
Meski jumlah turis China menurun, total wisatawan asing ke Jepang menembus 40 juta untuk pertama kalinya pada 2025, menurut Kaneko, dengan lonjakan kedatangan dari kawasan lain menutup kekurangan wisatawan China. Konsumsi secara keseluruhan juga mencapai rekor sekitar ¥9,5 triliun (US$60 miliar).
Jumlah wisatawan China sepanjang 2025 meningkat sekitar 30% dibandingkan setahun sebelumnya, meskipun terjadi penurunan sejak November. Namun, imbauan Beijing yang menganjurkan agar tidak bepergian ke Jepang serta instruksi kepada maskapai untuk mengurangi penerbangan hingga Maret 2026 meningkatkan risiko perlambatan berkepanjangan.
Agen perjalanan terbesar di Jepang memperkirakan tahun ini akan menjadi yang pertama mengalami penurunan pariwisata asing sejak negara itu dibuka kembali pascapandemi.
Ketegangan antara Tokyo dan Beijing kembali memuncak setelah Takaichi mengatakan di parlemen pada 7 November bahwa krisis Taiwan dapat dikategorikan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang. Klasifikasi tersebut akan memberikan dasar hukum bagi Tokyo untuk mengerahkan militernya bersama negara lain.
Sejak itu, peringatan perjalanan China telah memukul perekonomian di Jepang bagian barat, dan militer China disebut telah mengarahkan radar pengendali tembakan ke satu atau lebih jet tempur Jepang di Laut China Timur, menurut pemerintah Jepang. Perusahaan-perusahaan Jepang juga tengah mengevaluasi dampak pembatasan perdagangan yang diumumkan awal bulan ini.
Takaichi berulang kali menyatakan bahwa posisi Tokyo soal Taiwan tidak berubah dan sejalan dengan komunike tahun 1972. Dalam pernyataan bersama tersebut, Jepang mengatakan memahami dan menghormati pandangan Beijing bahwa Taiwan merupakan bagian “yang tak terpisahkan” dari wilayah China, tanpa menyatakan persetujuan terhadap pandangan itu. Dalam konferensi pers semalam, Takaichi kembali menegaskan bahwa pintu Jepang tetap terbuka untuk dialog dengan pejabat Beijing.
(bbn)





























