Rudy menyampaikan bahwa setelah banjir terjadi pada 26 November, personel TNI di wilayah segera turun melakukan pemantauan. Begitu air mulai surut, jajaran Kodim setempat bersama masyarakat dan pemerintah daerah langsung melakukan pembersihan. Batalyon Zipur 16 yang bermarkas di Banda Aceh mulai masuk ke lokasi pada awal Desember untuk mempersiapkan pemasangan jembatan pengganti.
Dalam kondisi keterbatasan alat berat, prajurit mengandalkan tenaga manusia. Dukungan alat berat dari pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum turut membantu mempercepat pembersihan material yang menyangkut di jembatan.
"Perintahnya adalah segera untuk membangun jembatan. Di sana kita juga sebelumnya melihat kondisi masyarakat yang harus menyeberang menggunakan sampan, bahkan ada yang membentangkan tali dan menggunakan keranjang. Melihat kondisi seperti itu hati kami terketuk,” kata dia.
Ia menegaskan, prajurit bekerja siang dan malam dengan sistem shift selama 24 jam agar jembatan dapat segera digunakan masyarakat. Salah satu lokasi tersulit adalah Jembatan Teupin Reudeup di wilayah Awe Geutah, jalur alternatif strategis Bireuen–Lhokseumawe. Keterbatasan ruang kerja serta material yang merupakan gabungan dari struktur lama menuntut improvisasi agar jembatan tetap aman dilalui.
Rudy menambahkan, keberhasilan pembangunan jembatan tidak lepas dari kerja sama lintas instansi, termasuk dukungan BPJN Aceh dan Kementerian PUPR dalam penyediaan material dan logistik.
"Jadi kita saling bantu-membantu untuk logistik. Alhamdulillah kita tercukupi juga, sehingga anggota tetap bisa melaksanakan pemasangan jembatan dengan kondisi yang ibaratnya tercukupi untuk logistiknya," katanya.
(red)































