Logo Bloomberg Technoz

"Rapatnya tertutup," ujar Ketua Komisi XI Muhammad Misbakhun.

Sebelum agenda rapat tersebut, kondisi perekonomian dalam negeri pada awal 2026 ini memang tengah dalam pantauan, seiring dengan kondisi nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan hingga rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Menanggapi hal itu, BI menilai pergerakan mata uang global, termasuk Indonesia, pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. 

BI mengklaim tekanan tersebut bersumber dari eskalasi geopolitik dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju.

Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve di Amerika Serikat (AS) ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.

"Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date (tahun kalender)," ujar Erwin G Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI dalam keterangan resminya.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam dua pekan ke depan.

Optimisme tersebut diutarakan di tengah upaya pemerintah yang saat ini mencoba mendongkrak ekonomi dalam negeri, dengan target pertumbuhan sebesar 6%.

Selain itu, kata Purbaya, potensi penguatan kembali rupiah ke depan juga akan dipengaruhi oleh sentimen pengusaha dalam negeri yang biasanya kerap menaruh dana di luar negeri.

"Dua minggu ini [akan menguat]," ujar Purbaya kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu. "Kalau nanti ekonominya membaik terus, harusnya rupiah kan menguat juga hampir otomatis. Kenapa? Karena modal-modal asing akan masuk. Mereka akan masuk ke tempat yang negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi."

(lav)

No more pages