ATC kemudian menyampaikan sejumlah instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur. Namun, setelah arahan terakhir disampaikan, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus.
“Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact),” lanjut Lukman.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC MATSC segera mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai ketentuan yang berlaku.
Selanjutnya, AirNav Indonesia Cabang MATSC melakukan koordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara guna mendukung upaya pencarian dan pertolongan.
“AirNav Indonesia Cabang MATSC segera melakukan koordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara guna mendukung langkah pencarian dan pertolongan,” papar Lukman.
Di sisi lain, pihak bandara menyiapkan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sebagai pusat koordinasi informasi.
Area pencarian difokuskan di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang sekaligus dijadikan lokasi posko Basarnas terdekat.
Lukman memastikan pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui operasi udara menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan pada pukul 16.25 WITA.
Selain itu, AirNav Indonesia juga menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait pelaksanaan kegiatan pencarian dan pertolongan.
“AirNav Indonesia saat ini juga tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue),” ungkap Lukman.
(dhf)






























