Menurut Agus, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah penurunan investasi portofolio asing, baik ke SBN maupun pasar saham domestik.
"[Jadi] Gak bisa kita kemudian hanya mengatakan bahwa 'Oh kita sudah punya kekuatan sehingga surat berharga negara ini sekarang dimiliki oleh domestik' Nggak bisa," tegasnya.
Agus juga menyoroti peran Bank Indonesia yang semakin besar dalam menopang pasar obligasi pemerintah. Ia mencatat, saat ini BI setidaknya telah memegang surat berharga negara sekitar Rp1.600 triliun.
Sebagai catatan saja, pada sampai awal September, pasar obligasi Indonesia sempat mengalami gejolak. Pada September, nilai kepemilikan SBN oleh investor asing adalah Rp908,09 triliun. Berkurang Rp44,76 triliun dibandingkan Agustus.
Selepas itu, investor asing terus di posisi menjual SBN. Pada Oktober, kepemilikan asing di SBN kembali berkurang menjadi Rp878,09 triliun. Meski demikian, yield SBN berangsur turun. Bahkan pada pertengahan Oktober sudah berada di bawah 6% untuk tenor 10 tahun.
(ain)































