Logo Bloomberg Technoz

Perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis terbaru data inflasi AS. Kemarin (13/1/2026), data inflasi inti AS pada Desember tercatat naik lebih rendah dari prediksi. Indeks Harga Konsumen inti juga naik 0,2% secara bulanan, dan 2,6% secara tahunan. 

Meski data itu sekilas member sinyal meredanya tekanan inflasi, respons pasar tidak sepenuhnya positif bagi aset berisiko, termasuk mata uang di pasar negara berkembang. Memang inflasi AS mulai terkendali tapi tak belum kuat untuk mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga acuan. 

Konsensus pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada pertemuan akhir bulan ini, terlepas dari masalah kriminalisasi yang tengah mendera kepala The Fed, Jerome Powell. Hal ini membuat laju indeks dolar bergerak di level tinggi seiring meningkatnya permintaan aset aman (safe haven). 

Tekanan eksternal itu berkelindan dengan faktor domestik. Pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal Indonesia, khususnya terkait pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Belanja negara yang cenderung ekspansif, dengan kombinasi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang agresif, meningkatkan kekhawatiran pasar. Saat ini, pasar cenderung melakukan sikap wait and see terhadap rupiah.  

(riset/aji)

No more pages