Logo Bloomberg Technoz

Hanya ringgit Malaysia yang menguat sebesar 0,2%. 

Pasar mata uang Asia 'kebakaran' lantaran sesumbar dan akrobat presiden AS Donald Trump terkait tarif. "Negara manapun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran, akan dikenakan tarif 25% untuk semua bisnis yang dilakukan dengan AS," kata Trump, Senin (12/1/2026), di akun Truth Social.

Pernyataan ini muncul di tengah gelombang protes anti-pemerintah Iran yang telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan penahanan warga sipil. Trump juga menekankan "perintah ini final dan mengikat," meski Gedung Putih sebenarnya tak langsung mengumumkan kebijakan ini. 

Tekanan Domestik 

Tekanan domestik menjadi faktor penekan paling signifikan dan memperparah pelemahan rupiah. Meski ditutup menguat tajam pada hari terakhir perdagangan tahun, sejatinya rupiah menjadi mata uang terlemah kedua ketimbang mata uang Asia lainnya sepanjang 2025. Rupiah tergerus hampir 4% sepanjang tahun setelah rupee India yang melemah hampir 5%. 

Di tengah kondisi volatilitas geopolitik, investor global semakin memprioritaskan prospek fiskal negara berkembang. Pelaku pasar menyoroti inkonsistensi Indonesia dalam meningkatkan kredibilitas pengelolaan fiskal, dengan defisit yang hampir menyentuh 3% PDB tahun lalu. Padahal, Indonesia pernah begitu konsisten mengelola perekonomian hingga mampu mengangkat peringkat kredit dari junk menjadi layak investasi (investment grade). 

Efek Ancaman

Walaupun Trump tak merinci bagaimana tarif tersebut akan diberlakukan, pasar negara berkembang ikut terseret. Sebagai catatan, Indonesia juga menjadi salah satu mitra dagang Iran sejak lama. 

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-Iran tercatat sebesar US$206,9 juta. Dari jumlah tersebut, ekspor Indonesia ke Iran mencapai US$195,1 juta, sementara impor dari Iran sebesar US$11,7 juta. Meski demikian, hubungan dagang dua negara ini menunjukkan tren penurunan dalam lima tahun terakhir dengan kontraksi sebesar 19,13%. 

Jika ancaman tarif 25% ini benar-benar diberlakukan, dampak terhadap Indonesia mungkin tidak langsung tapi tetap signifikan. Kebijakan tersebut akan memperbesar ketidakpastian dalam perdagangan global dan dapat memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia, khususnya jika partner dagang besar Indonesia juga terkena tarif ini dan mengalami perlambatan ekonomi.

Ketidakstabilan perdagangan global akan menekan nilai permintaan komoditas dan manufaktur Indonesia, sehingga dapat menurunkan volume ekspor dan mempengaruhi capaian neraca perdagangan serta menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah. 

Selain itu, ancaman ini memicu sentimen risk-off, dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman. Hari ini efek itu sudah terlihat di pasar mata uang Asia yang mulai kompak berada di zona merah. 

(riset/aji)

No more pages