Logo Bloomberg Technoz

Setelah sempat terhambat selama pandemi Covid-19, pengerjaan proyek RDMP Balikpapan makin dipercepat seiring dengan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).

Adapun, Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam Proyek RDMP Balikpapan.

Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.

Kehadiran fasilitas ini menjadikan Kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5.

Selain itu, Kilang Balikpapan juga dapat memproduksi produk petrokimia propylene dan sulfur.

“Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron lewat siaran pers, Minggu (11/1/2026).

"Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360 ribu barel per hari,” ujar Baron.

Proyek RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia.

Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.

“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, sehingga memperkuat pasokan LPG domestik dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor,” jelasnya.

Selain meningkatkan diversifikasi produk, RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene.

Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0.

Di mana makin tinggi angkanya, menunjukkan kilang lebih kompleks, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.

Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3% menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16%, menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang makin tinggi.

Cakupan Kilang Balikpapan

Kementerian ESDM menargetkan proyek RDMP Balikpapan dapat menghemat defisit neraca perdagangan Indonesia hingga US$2 miliar per tahunnya.

Kilang RU V Balikpapan merupakan salah satu unit operasi kilang Pertamina Internasional yang produknya disalurkan ke kawasan Indonesia bagian timur, yang merupakan dua per tiga dari cakupan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia.

Sementara sisanya produk Kilang RU V Balikpapan disalurkan untuk wilayah Barat Indonesia serta pasar ekspor.

Kilang ini telah beroperasi sejak 1922 dan saat ini memasok hingga 26% total kebutuhan BBM di seluruh Indonesia.

Lokasi RU V sangat strategis untuk memasok kebutuhan BBM di kawasan Indonesia Timur, dan didukung oleh jaringan distribusi yang baik, mencakup pipa distribusi, kapal tanker, serta moda transportasi darat. 

(naw)

No more pages