Amran menjelaskan surplus tersebut mendorong pemerintah untuk mempersiapkan Perum Bulog dapat mulai melaksanakan ekspor stok jagung. Apalagi terdapat kontribusi Polri terhadap produksi jagung dikatakan mencapai 3,5 juta ton atau 20% dari produksi jagung nasional di 2025.
"Capaiannya sampai 20%. Kami hitung, tadi Pak Kapolri, totalnya 700 ribu hektare dikali 5 ton, itu 3,5 juta ton. [Jadi] kita siap-siap ekspor. Bulog, tolong ini bukan pekerjaan kecil," sebut Amran.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengaku siap mengikuti arahan tersebut. Menurutnya, ini juga merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan pengumuman swasembada pangan pada Rabu (7/1/2026).
"Kami juga disini melihat dampak yang luar biasa dari adanya swasembada pangan, khususnya beras dan jagung. Memang ini sesuai dengan kemarin pada saat Bapak Presiden berkunjung di stand kami," ucap Rizal.
"Kami menargetkan di tahun 2026 ini, memang Bulog akan melaksanakan ekspor, baik beras maupun jagung. Ini seiring dengan konsep dari Bapak Kapolri, kami akan bersinergi semaksimal mungkin khususnya untuk kaitannya dengan ekspor jagung," imbuhnya.
Berdasarkan catatan Bapanas, ihwal data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 per Desember 2025, untuk komoditas jagung terdapat realisasi ekspor sampai November 2025. Jumlahnya sekitar 21,3 ribu ton. Di samping itu, ada pula rencana ekspor jagung di Desember 2025 sekitar 31,6 ribu ton.
Siap Salurkan SPHP Jagung 500.000 Ton di 2026
Adapun serapan jagung produksi dalam negeri sepanjang tahun 2025 telah tercapai 101 ribu ton. Daerah yang memiliki sarapan jagung tertinggi antara lain Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
Berkat stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang sepenuhnya bersumber dari produksi dalam negeri itu, sebanyak 51,2 ribu ton telah tersalurkan lewat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Ini merupakan penugasan Bapanas ke Bulog yang menyasar kepada 3.578 peternak ayam ras petelur di 17 provinsi.
Sementara untuk pelaksanaan SPHP jagung pakan di 2026 ini, Bapanas menargetkan sebanyak 500 ribu ton selama setahun sebagaimana hasil rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan (29/12/2025).
Sasaran penerima menyasar ke peternak ayam layer skala mikro, kecil, dan menengah karena mempunyai tingkat kebutuhan jagung pakan yang tinggi. Peternak telur diperkirakan membutuhkan 91% jagung pakan dari kebutuhan pakannya. Sementara peternak ayam di kisaran 60% – 65% membutuhkan jagung pakan.
Adapun stok CJP yang ada di Bulog awal Januari ini berada di angka 45 ribu ton. Untuk itu, Bulog harus mampu melakukan penambahan stok dari produksi jagung dalam negeri karena pemerintah telah memutuskan tidak ada impor untuk jagung pakan, benih, dan rumah tangga di 2026.
"Dari kemarin sudah disampaikan, tidak ada impor jagung khusus pakan. Ini karena bahkan kita sudah ekspor, ekspor di Kalimantan ke Malaysia, juga kita ekspor ke Filipina. Dari NTB dari Gorontalo. Jadi ada 3 tempat dan Bapak Presiden lepas langsung," ungkap Amran.
(ell)































