Dalam kondisi normal, excess reserve bisa mencerminkan likuiditas berlebih di sistem perbankan. Tapi, jika jumlahnya terlalu besar dan bertahan lama, ini dapat menjadi sinyal lemahnya penyaluran kredit ke sektor riil.
Kebijakan ini sejatinya diharapkan dapat memberi ruang fleksibilitas lebih besar bagi perbankan agar lebih akktif menyalurkan kelebihan likuiditas ke sektor keuangan dan dapat mendorong aktivitas ekonomi di sektor riil.
Akan tetapi, di balik komitmen ekspansi likuditas ini, kondisi ekonomi makro belum sepenuhnya kondusif. Ada sejumlah tantangan struktural dan siklikal yang masih membayangi. Seperti, tekanan pada nilai tukar rupiah masih berlanjut sejak awal 2026, seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini disebabkan oleh sikap kebijakan moneter global yang cenderung ketat, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Di sisi lain, penyaluran likuiditas ke kredit dan investasi masih menghadapi sejumlah hambatan. Hal ini tecermin dari sikap kehati-hatian perbankan dan dunia usaha di tengah lemahnya permintaan serta risiko inflasi. Sebagai catatan, pertumbuhan kredit di tahun 2025 dipatok berada di kisaran 8-11%.
Ditambah, daya beli rumah tangga masih tertahan, tercermin dari konsumsi yang belum pulih secara solid. Ini terjadi lantaran adanya kenaikan harga pangan serta penyesuaian upah minimum yang relatif terbatas secara riil.
Jika ditelaah lebih lanjut, sejatinya pertumbuhan M0 yang tinggi pada Desember 2025 dapat dikatakan lebih mencerminkan respons kebijakan moneter BI dalam menjaga stabilitas likuiditas dan sistem keuangan, ketimbang sinyal penguatan permintaan domestik yang solid.
Dengan kondisi ini, dorongan BI dalam menjaga pertumbuhan uang primer M0 di level double digit lebih mencerminkan upaya defensif menjaga stabilitas likuiditas dan sistem keuangan, ketimbang sinyal penguatan permintaan domestik secara fundamental.
Artinya, tanpa niat perbaikan yang lebih nyata pada sisi konsumsi, investasi, dan kepercayaan pelaku usaha, ekspansi uang primer berisiko kembali tertahan di sektor keuangan, dan belum sepenuhnya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
(riset/ain)



























