Uang Primer Melonjak, Tapi Sektor Riil Belum Terangkat
Tim Riset Bloomberg Technoz
08 January 2026 19:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) merilis data perkembangan uang primer (M0) Desember 2025, dan tercatat menunjukkan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, peningkatan likuiditas ini terjadi di tengah tekanan eksternal dan domestik yang semakin menantang, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi.
Pada Kamis (8/1/2026), BI mencatat posisi M0 Desember 2025 mencapai Rp2.367,8 triliun, tumbuh 16,8% secara tahunan. Capaian ini meningkat jika dibandingkan dengan posisi pada bulan November yang tumbuh 13,3%. Data ini merupakan M0 yang sudah disesuaikan (adjusted), atau telah mengisolasi dampak penurunan giro perbankan di BI akibat kebijakan insentif likuiditas.
BI menjelaskan bahwa sejak Januari 2025, metode perhitungan M0 adjusted disesuaikan untuk memberi gambaran yang lebih akurat terkait dinamika uang primer serta pengaruh kebijakan likuiditas bank sentral. Dengan penyesuaian tersebut, pertumbuhan M0 Desember 2025 tertopang oleh lonjakan giro bank umum di BI (adjusted) yang tumbuh sebesar 35,1% secara tahunan, serta peningkatan uang kartal yang diedarkan sebesar 12,9% secara tahunan.
Sebelumnya, BI menyatakan komitmennya untuk mendorong pertumbuhan uang primer tetap berada di level dua digit. Dalam laporan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Edisi Desember 2025, bank sentral memaparkan bahwa kebijakan moneter tahun 2026 akan dijalankan lewat tiga instrumen utama, yaitu kebijakan suku bunga, stabilisasi nilai tukar, serta pengelolaan dan ekspansi likuditas lewat operasi moneter.
Beberapa opsi yang dipilih BI antara lain, menurunkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesai (SRBI), meningkatkan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta memberikan remunerasi bagi bank yang menempatkan dana pada excess reserve atau dana cadangan perbankan yang ditempatkan pada BI lebih dari kewajiban Giro Wajib Minimum.





























