Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Maulana menyebut beberapa faktor pendorong turunnya tingkat okupansi yakni cuaca ekstrem di beberapa wilayah, harga tiket libur yang mahal, serta daya beli masyarakat yang belum stabil hingga saat ini. 

Berdasarkan catatan PHRI, okupansi hotel di Bali pada periode 25-31 Desember 2025 turun hingga 15% jika dibandingkan periode yang sama pada 2024. Walaupun sejumlah hotel melakukan strategi penurunan harga hingga 10%-15% namun tetap tidak dapat mendongkrak okupansi pada Desember 2025.

Perinciannya, okupansi paling terdampak yakni di wilayah Jimbaran, Pecatu, Ungasan, dan Nusa Dua yang menurun sebesar 20%. Kemudian Kuta dan Legian drop sekitar 14% serta Canggu dan Seminyak turun 8%.

Adapun faktor pendorong turunnya kunjungan wisatawan domestik di Bali yakni sentimen pemberitaan kemacetan lalu lintas, banjir, serta himbauan pemerintah untuk tidak melakukan pesta kembang api. 

Tak hanya Bali, PHRI mencatat okupansi hotel di provinsi lain juga mengalami penurunan yakni Jawa Barat pada periode libur Natal pada 24 dan 25 Desember 2025 hanya mampu mencapai 65%. Angka ini mengalami penurunan sampai 15% dibandingkan dengan 2024.

Okupansi di ⁠DKI Jakarta di kisaran 60% - 64%. Okupansi di Jawa Timur rata-rata 65% karena terdapat kegiatan Surabaya Holiday Super Sale. Jawa Tengah mencapai 71%, namun di kota-kota tertentu bisa mencapai 89%. Yogyakarta bisa mencapai 80%-90%

Di sisi lain, okupansi beberapa provinsi di luar Pulau Jawa tidak mampu mencapai 50% seperti Kalimantan Utara di kisaran 40% – 45 %; Sulawesi Selatan hanya 31% – 34.5%; Sulawesi Tenggara khususnya Kendari di level 50%; Batam sekitar 50%; dan Sumatera Selatan secara year to date hanya di angka 50,51%, namun pada Desember bisa mencapai 65,14%. 

(ell)

No more pages