Paling tinggi, saham minyak dan gas PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mengalami lonjakan harga saham mencapai 28,26% melesat menuju harga Rp118/saham, dengan harga tertinggi pada pagi siang hari mencapai Rp121/saham.
Susul saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) melesat 12,59% mencapai harga Rp286/saham, dengan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menguat 6,45% di posisi Rp264/saham.
Menyusul rekannya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menguat 4,26% ke harga Rp1.710/saham. ENRG merupakan emiten minyak dan gas dari Grup Bakrie yang beroperasi di bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas.
Senada dengan saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang turut melejit 2,75% di level Rp1.490/saham, dengan pencapaian harga tertinggi mencapai Rp1.630/saham pagi tadi.
Kenaikan harga saham juga terjadi pada saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Laju saham AKRA melesat mencapai 1,56% ke harga Rp1.300/saham.
AKRA merupakan perusahaan distribusi produk minyak bumi kepada pelanggan industri seperti perusahaan pertambangan, pembangkit listrik, perkebunan komersial.
Sedang saham minyak PT Elnusa Tbk (ELSA) juga menguat 1,96% pada perdagangan pagi siang hari, menyusul rekan–rekannya.
Posisi saat ini saham ELSA tengah melaju di harga potensial Rp520/saham, usai berhasil menguat 1o poin. Emiten ELSA merupakan perusahaan minyak dan gas, dan merupakan anak usaha dari Pertamina Hulu Energi, yang tergabung dalam Subholding Upstream Pertamina.
Analis MNC Sekuritas menyebut dalam riset Flash Notes pagi siang hari ini, Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 300 miliar barel, dengan tingkat produksi sekitar 900 ribu barel per hari (kbpd), atau < 1% dari total produksi global.
Yang jadi catatan penting, dengan struktur tersebut, setiap serangan terhadap Venezuela tidak berdampak material terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global. Hingga November 2025, ekspor minyak Venezuela mencapai 921 kbpd (+3% MoM / -5% YoY), dengan China sebagai tujuan utama (sekitar 746 kbpd) dan sekitar 150 kbpd diekspor ke Amerika Serikat.
“Serangan AS tidak menyebabkan kerusakan signifikan terhadap fasilitas produksi. Volume pasokan yang benar-benar berisiko mengalami gangguan diperkirakan hanya sekitar 500 kbpd, yang mengindikasikan bahwa dampaknya bersifat lebih regional ketimbang global,” jelas MNC Sekuritas, mengutip riset Senin (5/1/2026).
Sektor yang perlu dicermati investor, melansir MNC, sektor pelayaran/kapal tanker seiring penurunan biaya logistik, serta emas karena meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketegangan geopolitik.
Dengan harga minyak saat ini di level USD60,7 per barel, harga minyak relatif stabil pasca-serangan AS ke Venezuela, mencerminkan kontribusi Venezuela yang terbatas terhadap pasokan global serta kondisi pasar global yang masih longgar.
Oleh karena itu, setiap kenaikan harga minyak diperkirakan bersifat non-struktural. Terdapat potensi kenaikan moderat bagi pelaku hulu (upstream) dan terintegrasi, sementara risiko terhadap sektor hilir (downstream) dinilai tetap terkendali.
(fad)




























