Logo Bloomberg Technoz

“Lalu Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus pasokan minyak dunia sebesar 3,8 juta barel per hari pada tahun 2026,” kata Wahyu.

Kendati demikian, dia memprediksi jika terdapat sabotase yang dilakukan pendukung Maduro terhadap fasilitas minyak Venezuela, maka harga minyak mentah dunia bisa melonjak ke level US$60–US$63 per barel dalam jangka waktu singkat.

“Namun tren jangka menengah dan panjang tetap diprediksi stabil atau menurun karena pasokan global yang melimpah,” ungkap dia.

Di sisi lain, kata Wahyu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang akan merekonstruksi infrastruktur energi Venezuela dan segera mengalirkannya kembali ke pasar global memberikan sinyal akan terdapat tambahan pasokan di masa mendatang.

Dengan begitu, dia menilai langkah yang direncanakan Trump tersebut akan membuat harga minyak dunia bearish.

Dampak Terhadap ICP

Sedangkan Indonesia Crude Price (ICP), diprediksi tetap stabil karena melimpahnya pasokan global dari negara-negara non-OPEC, terutama AS. Dia memprediksi ICP akan bergerak di batas bawah US$60–US$70 per barel.

Dia menegaskan kelebihan pasokan minyak dunia menjadi bantalan yang meredam lonjakan harga akibat ketegangan politik di Venezuela.

“Pemerintah dan DPR telah menyepakati asumsi makro ICP 2026 di angka US$70 per barel. Namun, melihat tren pasar di awal Januari 2026 di mana Brent berada di kisaran US$60, ICP kemungkinan besar akan bergerak di batas bawah asumsi tersebut,” tegas Wahyu.

Meskipun begitu, Wahyu mewaspadai terjadinya pengalihan aset ke dolar AS yang dinilai sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global.

Dia memprediksi indeks dolar AS (DXY) akan menguat dalam jangka pendek dan bisa menguji level 98 hingga 100 jika eskalasi di Amerika Selatan berlanjut.

“Namun, penguatan ini bisa tertahan jika pasar melihat langkah Trump sebagai upaya ‘stabilisasi’  yang cepat, yang justru bisa menurunkan premi risiko dalam jangka panjang,” tegas dia.

Oleh sebab itu, penguatan DXY dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jika DXY menguat ke arah 100 atau lebih, maka rupiah berpotensi kembali melemah ke atas Rp16.800 per dolar AS.

Jika terjadi lonjakan nilai tukar, lanjut dia, beban subsidi di APBN akan meningkat. Akan tetapi, harga minyak saat ini masih di bawah asumsi makro sehingga risiko tersebut dinilai masih terkendali.

Melansir Bloomberg News, brent untuk pengiriman Maret turun 0,4% menjadi US$60,53 per barel pada hari ini di Singapura. Sementara WTI untuk pengiriman Februari turun 0,5% menjadi US$57,06 per barel.

Harga minyak anjlok karena pedagang mempertimbangkan dampak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS terhadap pasokan minyak mentah global dan dampaknya secara luas pada sektor energi negara tersebut.

Pada Sabtu, Presiden Donald Trump mengatakan sanksi terhadap industri minyak Venezuela akan tetap berlaku.

Namun, Trump menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan membantu membangun kembali infrastruktur dan menghidupkan kembali produksi, yang mungkin akan menjadi proses yang panjang.

Secara terpisah, OPEC+ tetap pada rencana untuk menangguhkan peningkatan pasokan pada kuartal pertama. Pasalnya pasar global menghadapi surplus dan kelompok tersebut menunggu kejelasan mengenai pasokan Venezuela.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sekitar 303 miliar barel, atau setara 17% dari total cadangan global, menurut data pemerintah AS.

Meskipun memiliki cadangan yang besar, Venezuela hanya mampu memproduksi sekitar 875.000 barel per hari pada 2024, yang setara dengan sekitar 0,9% dari total produksi minyak dunia.

(azr/naw)

No more pages