Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang utama Asia pun menghijau. Yen Jepang menjadi yang terbaik di Benua Kuning dengan penguatan 0,46%.
Di jalur merah, hanya dua mata uang Asia yang melemah. Mereka adalah peso Filipina (-0,05%) dan won Korea Selatan (-0,18%).
Rupiah sepertinya tertolong faktor eksternal yang kondusif. Sebab dari sisi domestik, sejatinya sentimen yang ada kurang suportif.
Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah sudah diperdagangkan di Rp 16.791/US$ untuk tenor sebulan. Berkurangnya arus modal asing rasanya membuat rupiah jadi kurang ‘darah’.
“Hal ini tampaknya disebabkan oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan kembali nilai penerbitan lelang Sekuritas Rupiah BI (SRBI) menjadi Rp 5 triliun pada Jumat pekan lalu, dari pekan sebelumnya Rp 7 triliun. Kami melihat peluang arus keluar modal asing hingga membuat rupiah menuju level Rp 16.900/US$,” sebut riset Mega Capital Sekuritas.
Rupiah, lanjut riset tersebut, berisiko untuk menyentuh level Rp 17.000/US$ pada awal tahun depan. Untuk hari ini, Mega Capital Sekuritas memperkirakan gerak rupiah di rentang Rp 16.750-16.850/US$.
“Meskipun likuiditas domestik menunjukkan indikasi peningkatan, kami melihat potensi persaingan likuiditas antara kebutuhan kredit perbankan dengan dana investasi bank di SUN (Surat Utang Negara),” tambah riset itu.
- Dengan asistensi Ruisa Khoiriyah -
(aji)





























