“Tetapi kita memang mempunyai 40% yang di luar ekosistem. Dan ini memang berkembang terus, kebanyak secara organik, banyak dengan partnership-partnership yang lain yang di luar ekosistem,” kata Tigor.
Tigor menekankan bahwa Indonesia masih memiliki potensi pasar yang sangat besar di luar ekosistem yang ada saat ini. Dengan jumlah nasabah sekitar 5 juta orang, ruang pertumbuhan dinilai masih luas.
“Nasabah kami itu memang 5 juta nasabah. Tapi masyarakat Indonesia itu sangat-sangat besar. Jadi masih sangat luas sekali kesempatan kami di luar ekosistem itu,” ujarnya.
Ketergantungan Superbank terhadap mitra strategis juga tercantum secara eksplisit dalam prospektus perseroan menjelang IPO. Manajemen menyatakan bahwa operasional dan pertumbuhan bisnis Superbank sangat bergantung pada kemitraan dengan Grab dan OVO, terutama dalam distribusi produk dan akuisisi nasabah.
“Memburuknya hubungan dengan salah satu pihak tersebut dapat berdampak negatif terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasional, dan prospek perseroan,” tulis manajemen dalam prospektusnya.
Selain itu, Superbank juga mengungkapkan adanya potensi risiko apabila terjadi aksi korporasi yang melibatkan mitra strategis. Perseroan menyebut bahwa rencana merger Grab dengan perusahaan lain dapat memengaruhi bisnis Superbank, meskipun dampak pastinya belum dapat ditentukan.
Isu tersebut mengemuka di tengah rumor rencana merger antara Grab Holdings Ltd. dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kembali menguat. Presiden Direktur Superbank menegaskan bahwa perseroan tidak ingin berspekulasi atas isu tersebut.
“Wah saya nggak bisa komen dengan spekulasi yang diluar yang beredar,” ujar Tigor saat ditemui usai seremoni pencatatan saham SUPA di Gedung BEI, Rabu (17/12/2025).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kerja sama dengan ekosistem Grab hingga saat ini berjalan dengan baik dan memberikan kinerja positif bagi perseroan.
“Tapi yang saya bisa katakan bahwa semua ekosistem yang di Grab tadi semuanya itu berjalan dengan superbank,,” katanya.
Tigor juga menegaskan bahwa Superbank akan tetap mengandalkan ekosistem sebagai salah satu kekuatan utama dalam strategi bisnis ke depan, sembari tetap membuka peluang pertumbuhan dari luar ekosistem.
“Superbank tetap mengandalkan ekosistem. Karena itu adalah low hanging fruit. Cost of acquisitionnya lebih rendah, cost of engagement, cost of survey lebih rendah. Akan tetapi kita tidak menutup dari luar ekosistem,” tegasnya.
Di sisi lain, isu merger Grab dan GoTo turut menjadi perhatian pasar. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya membenarkan adanya pembahasan terkait penggabungan kedua perusahaan teknologi tersebut.
“Iya, rencananya memang begitu (merger Grab dan GoTo),” ujar Prasetyo Hadi di Istana Merdeka, Jakarta.
Ia juga menyebut adanya potensi keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam proses tersebut, meski pembahasan masih berlangsung.
“Kira-kira begitu (libatkan Danantara). Masih dicari bentuknya,” katanya.
(dhf)




























