Investor sepertinya kembali memasang mode wait and see. Pasalnya, pekan ini akan ada rilis data penting di Amerika Serikat (AS).
Pekan ini, akan ada rilis data ketenagakerjaan periode November. Konsensus pasar memperkirakan perekonomian Negeri Paman Sam menciptakan 50.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) bulan lalu. Sementara tingkat pengangguran diperkirakan 4,5%.
Jika terwujud, maka data tersebut memberikan konfirmasi bahwa pasar tenaga kerja AS masih lesu. Namun di sisi lain, belum sampai ambruk.
Oleh karena itu, sepertinya ekonomi AS butuh stimulus dari berbagai sisi. Termasuk moneter dengan penurunan suku bunga acuan.
“KIta sudah kembali ke rezim bahwa baik itu buruk dan buruk itu baik. Pemulihan pasar tenaga kerja, yang baik untuk ekonomi, akan menurunkan kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan pada 2026,” sebut Michael Wilson, Strategist Morgan Stanley, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Sembari menunggu kabar dari Negeri Adikuasa, sepertinya investor memilih untuk menunggu di pinggir lapangan. Belum ada aksi-aksi signifikan.
Pelaku pasar pun cenderung bermain aman dengan tidak menempatkan aset-aset di negara berkembang sebagai pilihan utama. Akibatnya, mata uang Asia bergerak variatif dan rupiah bahkan melemah bersama sejumlah valuta lainnya.
(aji)































