Logo Bloomberg Technoz

Risiko Geopolitik dan Harga Minyak Masih Bayangi Rupiah

Tim Riset Bloomberg Technoz
16 March 2026 08:15

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mengawali pekan pendek di pasar keuangan domestik, rupiah offshore dibuka stagnan di level Rp16.900-an/US$. Pergerakan rupiah terlihat masih defensif di pasar kontrak Non-Deliverable Forward (NDF), mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menjelang sejumlah agenda penting bank sentral global serta masih tingginya ketidakpastian geopolitik. 

Pagi ini, Senin (16/3/2026), nilai kontrak rupiah offshore dibuka di Rp16.981/US$ setelah penutupan pekan lalu Rp16.974/US$. Indeks dolar AS tercata masih bertengger di level tinggi 100,42 pada pembukaan perdagangan hari ini, menandakan permintaan terhadap aset safe haven masih relatif kuat. 

Meski begitu, beberapa pasar keuangan Asia yang sudah dibuka menunjukkan pergerakan mata uang yang cenderung beragam. Penguatan terjadi pada won Korea Selatan, yen Jepang, ringgit Malaysia, yuan offshore China, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, baru baht Thailand yang terlihat melemah. 

Pergerakan mata uang Asia pada Senin pagi (16/3/2026). (Bloomberg)

Secara bulanan, pergerakan rupiah relatif mampu bertahan jika dibandingkan dengan mata uang Asia dan negara berkembang lainnya. Hal ini terjadi kemungkinan besar disebabkan oleh intervensi yang masif oleh Bank Indonesia (BI) di pasar. 

Namun, pergerakan harga minyak dunia yang semaki melambung membawa rupiah menghadapi peningkatan sentimen risk aversion dari para investor global. Harga minyak Brent pagi ini berada di level US$106,5 per barel membuat investor cenderung konservatif dan memprioritaskan keamanan modalnya daripada ingin mendapatkan keuntungan besar di pasar yang penuh risiko seperti di pasar Asia, termasuk Indonesia.