Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Lesu, Nyaris Rp17.000/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
16 March 2026 15:38

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot hari ini terlihat defensif, bahkan menjadi yang kedua terlemah di pasar mata uang Asia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (16/3/2026), ditutup melemah 0,27% ke posisi Rp16.990/US$, menyusul kembali menguatnya indeks dolar AS ke level 100,38. Meski dolar AS menguat sejumlah mata uang di pasar Asia masih bisa mencatatkan penguatan. 

Seperti yen Jepang, ringgit Malaysia, dolar Singapura, rupee India, won Korea Selatan, yuan China, dan yuan offshore. Sebaliknya, baht Thailand, rupiah, peso Filipina, dolar Taiwan, dan dolar Hong Kong melemah. 

Pergerakan mata uang Asia pada Senin sore (16/3/2026). (Bloomberg)

Volatilitas rupiah tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal berupa penguatan dolar AS, tetapi juga oleh tekanan dari pasar komoditas energi. Lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir ikut memperbesar kekhawatiran terhadap dampaknya terhadap inflasi, neraca perdagangan energi, serta kondisi fiskal Indonesia.

Jika menilik pergerakan harga energi global, tekanan tersebut memang terlihat signifikan. Pada pertengahan Februari, harga minyak mentah dunia masih relatif stabil di kisaran US$67 hingga US$75 per barel. Namun memasuki akhir Februari, harga mulai bergerak naik secara bertahap dan menembus US$75 hingga US$80 per barel.

Pergerakan harga minyak dan rupiah dalam satu bulan terakhir. Rupiah ikut melemah seiring naiknya harga minyak. (Bloomberg)