“Investor tampak ragu untuk mengambil langkah berani menjelang rangkaian data ekonomi utama yang akan dirilis,” kata Jose Torres dari Interactive Brokers.
Setelah keputusan terbaru The Fed memangkas suku bunga, laporan ketenagakerjaan November yang dirilis Selasa diperkirakan menunjukkan pasar tenaga kerja yang melambat. Rilis ini juga mencakup estimasi data payroll Oktober—yang tertunda akibat penutupan pemerintah—sementara indeks harga konsumen AS dijadwalkan terbit Kamis.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun tipis di tengah taruhan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun depan untuk menopang pasar kerja, meski inflasi masih menunjukkan kekakuan. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun sekitar satu basis poin menjadi 4,17% pada Senin. Indeks dolar AS melemah ke level terendah sejak Oktober.
Dengan The Fed masih terlihat lebih fokus pada pelemahan pasar tenaga kerja ketimbang inflasi, pasar berpotensi menghadapi skenario “kabar buruk menjadi kabar baik” untuk laporan ketenagakerjaan, menurut Chris Larkin dari E*Trade Morgan Stanley. “Selama angkanya tidak menunjukkan penurunan tajam pada lapangan kerja, pasar bisa menyambut data yang lemah karena berpotensi mendorong The Fed lebih dovish,” ujarnya.
Deputi Gubernur The Fed Stephen Miran berpendapat sikap kebijakan saat ini terlalu ketat. Gubernur The Fed New York John Williams menyatakan kebijakan moneter berada pada posisi yang tepat untuk tahun depan setelah pemangkasan suku bunga pekan lalu. Sementara itu, Gubernur The Fed Boston Susan Collins menilai keputusan suku bunga sebagai “pilihan yang sulit” karena kekhawatirannya terhadap inflasi yang masih tinggi.
Di Asia, data yang akan dirilis antara lain indeks kepercayaan konsumen Australia, PMI S&P Global untuk Jepang dan India, serta data uang beredar Korea Selatan.
Di China, investasi kembali melemah dan penjualan ritel tumbuh pada laju terlemah sejak guncangan akibat Covid, menandai satu lagi bulan pertumbuhan yang tidak seimbang.
Yen bergerak stabil terhadap dolar AS pada awal perdagangan Selasa, menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan pada Jumat. Gubernur Kazuo Ueda secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan BOJ ke level tertinggi dalam tiga dekade.
Di tempat lain, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc dikabarkan mendekati kesepakatan untuk membeli saham minoritas di Shriram Finance Ltd di India, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.
Harga minyak merosot lebih dari 1% pada Senin, membawa kontrak berjangka West Texas Intermediate ke sekitar US$56,60 per barel, di tengah berlanjutnya pembicaraan mengenai potensi kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Di AS, terdapat kekhawatiran terhadap kualitas data mengingat Biro Statistik Tenaga Kerja masih mengejar ketertinggalan setelah penutupan pemerintah, menurut Ian Lyngen dari BMO Capital Markets. Karena itu, investor kemungkinan bersikap lebih berhati-hati dalam merespons rilis data utama pekan ini.
“Namun, mengingat minimnya informasi fundamental mengenai kinerja ekonomi riil selama periode penutupan, sinyal dari laporan payroll dan inflasi tetap akan menentukan arah pasar suku bunga AS saat memasuki mode perdagangan akhir tahun dan liburan,” ujarnya.
Jika ekspektasi pasar terbukti benar, kondisi ini bisa membuka jalan bagi penguatan lanjutan obligasi pemerintah AS, yang menuju kinerja tahunan terbaik sejak 2020.
Sementara itu, para ahli strategi Oppenheimer Asset Management mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham AS, dengan menyatakan mereka “memperkirakan ekonomi dan pasar AS akan memimpin perekonomian global menuju semacam normal baru.”
Tim yang dipimpin John Stoltzfus memperkirakan reli pasar akan meluas pada 2026 seiring fundamental ekonomi yang tetap mendukung pertumbuhan pendapatan dan laba.
“Kami percaya investor perlu memposisikan diri untuk meraih manfaat dari reli saham yang diperkirakan terjadi tahun depan, dengan menambah eksposur ke sektor teknologi, kesehatan, utilitas, dan perbankan bagi mereka yang masih kurang terekspos ke pasar AS,” kata Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management.
Haefele memperkirakan indeks S&P 500 akan mencapai 7.300 pada Juni tahun depan dan 7.700 pada akhir 2026.
(bbn)































