Logo Bloomberg Technoz

Berkaca pada hal tersebut, kondisi ini kata Aviliani menunjukkan perlunya kebijakan pemerintah yang mampu meningkatkan kepercayaan dunia usaha. 

Selain itu, lebih jelasnya dalam survei Kadin bersama Perbanas juga menonfirmasi bahwa data pendapatan per kelompok masyarakat juga menggambarkan ketimpangan kelompok 30% terkaya (Top-30) mengalami perlambatan paling tajam, sedangkan kelompok bawah dan menengah masih tumbuh tetapi terkonsentrasi pada sektor padat modal. 

Sektor padat karya justru mencatat kontraksi pendapatan hingga 6,26%, jauh tertinggal dibanding sektor padat modal maupun jasa yang tumbuh masing-masing 18,77% dan 7,83%. Secara keseluruhan, lebih dari 70% responden percaya kebijakan pemerintah sudah tepat, tetapi mayoritas pelaku usaha tetap bersikap 'wait and see', sehingga permintaan kredit masih tertahan.

"Jadi sekarang ini yang tumbuh lebih banyak itu adalah padat modal dan sektor jasa yang penyerapan tenaga kerjanya [meski] itu tidak banyak, hanya sekitar 2-5%," jelasnya. 

Apa yang Sebenarnya Ditunggu Pelaku Usaha? 

Lantas apa yang membuat pelaku usaha masih tampak wait and see? Economist Perbanas, Enrico Tanuwidjaja  pada kesempatan yang sama menuturkan, pelambatan ekspansi kredit oleh pelaku usaha ini karena faktor meningkatnya ketidakpastian.

"Jadi ketidakpastian yang meningkat menurunkan confidence. Itu nggak cuma di Indonesia, tapi Indonesia terdampak. Itu yang menyebabkan kenapa kita tersendat, wait and see," jelasnya. 

"Ketidakpastian itu harus dikontrol. Tapi gini, tadi poin pertama saya, ekonomi kita kan besar. Domestiknya kalau kita arahkan dengan betul, confidence akan naik," sambungnya. 

Oleh karena itu, ia berharap ekonomi domestik dapat diarahkan melalui sektor-sektor yang memiliki peluang, salah satunya pertanian fan manufaktur berbasis padat karya. 

Sementara itu, Aviliani menambahkan  ketidakjelasan arah kebijakan sektoral juga membuat pelaku usaha ragu untuk berekspansi.

Ia menjelaskan kredit yang berjalan saat ini terbagi dua kategori, pertama, pengusaha inovatif yang berinvestasi karena melihat kebutuhan masa depan seperti teknologi dan pangan. Namun jumlahnya tidak banyak. Terakhir,  pengusaha yang menunggu permintaan, di mana mereka baru mengambil kredit jika demand meningkat.

"Memang policy pemerintah yang mungkin diharapkan terutama di sektoral. Karena di sektoral ini yang memang kita belum lihat arahnya mau ke mana. Jadi membiarkan pengusaha jalan masing-masing," tegasnya. 

(ain)

No more pages