“PTAR beroperasi di sub DAS Aek Pahu, yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga. Meskipun kedua sungai tersebut bertemu, titik pertemuannya berada jauh di hilir Desa Garoga sehingga aktivitas PTAR di DAS Aek Pahu tidak berhubungan langsung dengan bencana di Garoga,” papar perusahaan.
PTAR juga menyebut penyumbatan masif oleh material kayu gelondongan di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli menjadi pemicu utama banjir bandang pada 25 November sekitar pukul 10.00 WIB. Pengamatan udara menunjukkan longsor masif terjadi di tebing-tebing Sungai Garoga, termasuk di kawasan hutan lindung, yang menjadi sumber lumpur dan kayu gelondongan.
Sementara itu, di wilayah Sub DAS Aek Pahu tidak terjadi banjir bandang signifikan. “Lima belas desa lingkar tambang yang sebagian besar berada di sub DAS Aek Pahu tidak mengalami dampak yang signifikan, bahkan saat ini difungsikan sebagai pusat-pusat pengungsian,” ungkap PTAR.
Sejak hari pertama bencana, PTAR terlibat aktif sebagai first responder. “PTAR telah menjadi bagian dari the first responder dengan melakukan kegiatan Search and Rescue (SAR), pembukaan akses, pendirian posko-posko pengungsian yang dilengkapi tenda-tenda darurat, dapur umum, dan klinik masyarakat,” lanjut pernyataan tersebut.
Perusahaan menegaskan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan. “Tambang Emas Martabe melakukan kegiatan penambangan sepenuhnya di Areal Penggunaan Lain (APL), di luar kawasan hutan Batang Toru,” tandas PTAR.
Di akhir pernyataan, PTAR mengajak semua pihak menahan narasi yang tidak tepat dan mendukung kajian independen. “Kami mendukung sepenuhnya kajian komprehensif dan independen untuk menghasilkan kesimpulan yang tepat yang sangat vital dalam mitigasi risiko bencana di masa depan,” pungkas PTAR.
(tim)






























