Logo Bloomberg Technoz

Ia menjelaskan bahwa kondisi pengungsian yang serba terbatas menjadi faktor pemicu berlapis. Padatnya tenda, sulitnya air bersih, serta keterbatasan fasilitas mandi dan cuci tangan membuat anak lebih mudah terserang penyakit infeksi. 

Di sisi lain, pengalaman melihat banjir, longsor, atau kehilangan rumah turut menyisakan efek psikologis yang tidak ringan, terutama pada anak usia balita dan sekolah dasar.

Selain gangguan trauma, tim IDAI turut mencatat naiknya risiko penularan penyakit menular akibat imunitas anak yang menurun di pengungsian. “Anak-anak ini rentan, termasuk juga rentan terhadap penyakit menular di pengungsian. Ada ancaman campak yang bisa menular ke mana-mana bila tidak cepat kita tangani,” kata dr. Piprim. 

Lebih jauh, ia menekankan bahwa penyakit menular seperti campak jauh lebih berbahaya di area pengungsian dibanding di situasi normal. Periode inkubasi yang sulit terdeteksi, ditambah dengan mobilitas antarposko dan keterbatasan skrining awal, menjadikan campak sebagai “bom waktu” bagi kesehatan anak. Oleh karena itu, tim medis anak membutuhkan suplai vaksin lanjutan, ruang observasi terpisah, dan edukasi intensif bagi orang tua serta relawan.

Selain vaksinasi, dr. Piprim menyoroti kebutuhan pendukung pemulihan lain yang sering luput dari sorotan. “Minyak kayu putih, obat drop bayi, sirop demam, oralit, hingga snack anak sehat untuk membantu mereka mau minum obat atau makan saat lemas—ini tampak sederhana, tetapi sangat berpengaruh pada keberhasilan terapi,” tambahnya.

(dec/spt)

No more pages