Logo Bloomberg Technoz

"Warga setempat sempat bertahan hidup empat hari hanya dengan persediaan pribadi, sebelum bantuan makanan dan obat pertama datang pada Sabtu lalu,"katanya kepada Bloomberg Technoz, Senin (1/12).

Ia juga mengungkap adanya kericuhan sosial saat banjir mulai surut di beberapa titik. Ketimpangan distribusi dan kepanikan akibat kelaparan mendorong massa menjarah markas logistik milik BPBD Aceh Tamiang. Insiden itu terjadi saat masyarakat kian terdesak oleh kebutuhan pangan, meski air sempat sedikit surut.

“Kondisi masyarakat sudah kelaparan karena terjebak banjir. Banyak akses jalan juga masih tertutup, sehingga bantuan tidak tersebar merata,” ungkapnya.

Banjir juga melumpuhkan jalur lintas utama kabupaten hingga “100%”. Puing bangunan, bangkai kendaraan, dan struktur yang runtuh dilaporkan menghalangi total arus transportasi. Alhasil, rantai suplai hampir sepenuhnya terputus. Kondisi ini berpotensi memicu krisis kesehatan dan kemanusiaan yang lebih luas.

Hingga Senin sore, dari 12 kecamatan yang ada, 10 masih belum menerima bantuan secara layak. Bahkan, seperenam kecamatan secara administratif masih sulit dijangkau. Situasi ini menciptakan kantong-kantong isolasi yang memerlukan evakuasi atau logistik melalui jalur alternatif yang belum terpetakan.

Alfi Syahri menyampaikan harapan mendesak agar bantuan pangan, air bersih, dan obat-obatan dapat diprioritaskan. Ia juga berharap pendirian dapur umum darurat oleh otoritas terkait dapat segera direalisasikan guna mencegah korban jiwa akibat kelaparan dan waterborne diseases di tengah banjir.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkap tantangan evakuasi dan distribusi logistik paling sulit pada fase darurat akibat banjir bandang dan longsor.

Di sisi Aceh, Suharyanto menyampaikan bahwa tingkat keterisolasian juga masih tinggi di sebagian besar kabupaten, mengingat banyak jalan antarkota strategis yang terhenti akibat banjir dan longsor.

Rute dari Banda Aceh ke Lintas Tengah Aceh hingga Lhokseumawe masih mengalami putus akses, termasuk Gayo Lues ke Aceh Tenggara, Bener Meriah, Aceh Tengah, hingga Subulussalam.

BNPB memastikan penguatan kekuatan personel dan logistik di Aceh terus ditambah. “Kekuatannya sudah lebih banyak, sudah lebih penuh,” kata Suharyanto.

Namun, ia mengakui bahwa tantangan medan Aceh berbeda, banyak daerah “terputus-putus”, sehingga meski jumlah korban lebih kecil dibandingkan Sumut, upaya mencapai wilayahnya menuntut prioritas khusus dan ritme distribusi lebih rapat.

BNPB pun mencatat korban di Aceh sebanyak 54 jiwa meninggal, 55 hilang, dan 8 mengalami luka. Daerah yang membutuhkan “dorong logistik tanpa henti” fokus di Bener Meriah dan Aceh Tamiang, termasuk Aceh Tamiang.

“Di sana ada Bapak Kementerian Dalam Negeri RI dengan deputi bidang Rehabilitasi–Rekonstruksi, kami juga lengkap, termasuk Deputi Fajar. Hari ini kita dorong lewat darat, udara, dan laut,” ujarnya.

(dec/spt)

No more pages