Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, saat Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis (27/11/2025), Purbaya menyinggung kebijakan moneter hingga saat ini masih belum cukup optimal dalam membantu pemulihan ekonomi nasional yang mengalami pelemahan selama delapan bulan pertama tahun ini.

Meski mengalami tanda-tanda pemulihan ekonomi menjelang akhir tahun, Purbaya mengklaim capaian tersebut masih ditopang dari sisi kebijakan fiskal pemerintah, yang salah satunya lewat penambahan likuiditas ke perbankan.

Itu pun masih belum optimal. Karena kan fiskal, ya fiskal. Masih ada mesin ekonomi kita yang belum membantu dari sisi moneter. Ini injeksi positif masih dari sisi fiskal aja," ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Purbaya mengatakan, penempatan likuiditas negara kepada perbankan pada awal September lalu senilai Rp200 triliun memang cukup membantu pemulihan ekonomi lewat capaian pertumbuhan uang beredar dari semula yang hampir 0% per Agustus menjadi 8% pada September.

Tetapi, pada Oktober, uang beredar memang masih mengalami pertumbuhan sebesar 7,7%, tetapi kembali tumbuh melambat dibandingkan bulan sebelumnya maupun di periode yang sama tahun sebelumnya (yoy).

Hanya saja, Purbaya menggarisbawahi Bank Indonesia belakangan masih terus melakukan operasi moneter lewat pengurangan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tetapi, Purbaya menilai langkah itu belum maksimal.

"Kalau boleh bantu [tambah] sedikit saja, [akan[ lebih bagus lagi [perekonomian kita]," tutur Purbaya. "Kan yang situ di bawah Komisi XI juga, coba deh diketok-ketok sedikit biar kita bisa jalan bersama."

Belakangan, BI melaporkan telah mengurangi kepemilikan SRBI sebagai bagian dari operasi moneter dalam memperkuat likuiditas perekonomian dalam negeri.

Per 17 November 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan posisi instrumen SRBI mengalami penurunan menjadi sebesar Rp699,30 triliun dibandingkan posisi pada awal tahun ini yang masih sebesar Rp916,97 triliun.

(lav)

No more pages